Ini Bukanlah Penyesalan

Ada nyeri yang tertera di hati. Ada kegamangan yang bersemayam dan menguncang perasaan. Sekali lagi, inikah episode akhir dari sebagian tholabul ‘ilmi. Serasa baru kemarin ku injakkan kaki di kampus tercinta ini. Namun tanpa tersadari sekian tahun telah berlalu. Begitu cepatnya sang waktu berputar. Dan membuat saya bertanya-tanya : adakah kemanfaatan ilmu yang saya dapatkan saat ini. Adakah keberkahan yang akan mengiringinya nanti. Entahlah, saya tidak tahu dan yakin sepenuhnya Allah Maha Mengetahuai. Mungkin ada banyak cara untuk sampai disana.

Predikat sarjana telah tersemat. Ketika masih mahasiswa benar-benar menjadi harapan siapapun jua. Tak terbayang jika kemudian justru menjadi beban bagi siapapun. Aku yakin kata sarjana tidak sama dengan kata cerdas. Kubandingkan keduanya kemudian kubuka hadist ini,” Orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan berbuat untuk masa setelah mati. Orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan berharap (banyak) pada Allah” (HR.Turmuzi, dari riwayat Syaddad bin Aus ra).

Kusadari ini bukan di etape final. Aku masih bisa berharap banyak untuk menjadi sang pemenang. Jika saja aku boleh berandai, jarum jam diputar. Namun, Islam melarang pengandaian. Benar. Konsentrasi di babak ini seringkali buyar. Ada kelalaian yang seringkali menghantui. Sepenuhnya aku percaya, sebagai mahasiswa akan mengalami masa penyesalan ini. Bukan karena rendahnya IPK, bukan karena tidak cumloude tapi semata-mata oleh satu hal. Mampukah aku menjadi yang terbaik diantara sekian juta para pemburu satu cinta, sejuta pengampunan dan seribu keberkahan? Aku malu menanyakannya pada diriku sendiri.

Kuberharap selama kuliah dapat memperbaiki diri. Tanpa ada keburukan yang dibuat. Namun, masih tersisa kedengkian. Masih ada pertanyaan sikap dan prasangka buruk. Masih juga bersemanyam ketersinggungan dan gerutu ketidakpuasan. Masih ada pandangan mata khianat. Masih ada ketajaman lidah yang melukai hati. Masih juga mengoleksi berita-berita tak bernilai. Masih saja melafazkan kata-kata tak bermakna. Lantas, apa makna tengadahan tangan di tengah malam yang diiringi isak pengharapan. Sekali lagi, pengharapan yang lemah yang kalah oleh nafsu.

Sebagaimana aku mengandaikan bidadari surga. Apakah ia takkan cemburu dan marah dengan andangan khianatku pada hal-hal yang tak seharusnya kulihat. Sebagaimana aku berharap istana megah setelah matiku. Sudah berapakah aku menabung untuk itu. Sementara, selama ini dipenuhi ambisi dan obsesi yang penuh dengan tabungan materi dan memegahkan istana duniaku. Dan aku telah mencintai dunia itu. Sebagaimana aku berharap menikmati seteguk susu dari aliran sungai di surga-Nya. Aku lalai mengumpulkan “dana” untuk membelinya. Juga madu dan jus mangga.

Etape yang terlewati banyak tikungan tajam. Tak jarang aku terjatuh. Putaran roda keinginan tersebut tergelincir oleh kerikil kecil bernama kelalaian. Bismillah, aku berusaha bangkit meneruskan perjalanan. Meski aku tahu, kini aku jauh tertinggal. Aku belum bisa menjadi yang terbaik. Tapi aku masih bisa berharap untuk menjadi baik. Karena aku masih bersama orang-orang baik bahkan mereka ada di depanku; orang-orang terbaik itu.

Aku masih harus melewati tikungan tajam lainnya. Tergesa-gesa, kecerobohan, cinta dunia, rasionalisasi kesalahan, buruk sangka. Namun, aku masih punya bekal. Cinta, hati nurani, pikiran dan bahan bakar ketelitian serta nasihat orang-orang shalih. Dan tikungan tajam yang paling membahayakan di akhir etape ini adalah: menduakan cinta-Nya. Ada cinta lain yang menyesak hendak menggeser kemuliaan itu.

Masih ada ujian setiap saat : menanggalkan kesombongan dan ingin dipuji serta disanjung berlebihan. Menanggalkan kecintaan dunia yang berlebihan dengan qanaah dan tawadlu.

Tiba-tiba aku ingin menangis sebagai bukti syukurku. Namun, aku tak mampu. Ya Allah aku ingin mengeluarkan air mata ini untuk-Mu. Aku khawatir kesulitan ini tersendat karena kemurkaan-Mu. Air bening itu tersendat. Jangan-jangan karena kesalahanku. Karena tumpukan-tumpukan egoisme. Karena tumpukan-tumpukan kotoran buruk sangka. Karena tumpukan-tumpukan gerutu. Karena tumpukan-tumpukan doa-doa yang kosong. Terkunci oleh hawa nafsu. Jika demikian, jangan Kau murkai hamba ini ya Allah. Hamba masih terus berharap pembebasan dari murka-Mu di hari-hari pembebasan ini.

 

Salam Sukses Hakiki untuk kita semua dalam meniti jalan-Nya meraih ridho-Nya. (wiedz)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: