Curahan Kisah Romantisme Masa Lalu Dan Ironisme Masa Kini

Beliau seorang sahabat yang ketundukan dan kepatuhannya terhadap Islam terpatri kuat dalam budi dan sanubarinya. Disaat perang melawan kekafiran seperti perang badar dan perang lainnya berkecamuk, dia tidak pernah absen untuk membela agama Alloh. Derajat yang mulia dikalangan muslimin angkatan pertama disandangnya. Beliau adalah Ubai bin Ka’ab. Seorang sahabat dari Ansor yang tetap setia dan tekun baik dalam beribadat, teguh dalam beragama dan utama dalam keluhuran budi setelah Rasululloh wafat.

Tatkala wilayah Islam telah meluas, dan dilihatnya sebagian kaum muslimin mulai menyeleweng dengan menjilat kepada pembesar-pembesar mereka, ia tampil dan melepaskan kata-katanya yang tajam : ” Celakalah mereka, demi Tuhan mereka celaka dan mencelakan! Tetapi saya tidak menyesal dengan nasib mereka, hanya saya sayangkan adalah kaum muslimin yang celaka disebabkan mereka”. Ubai bin Ka’ab selalu menangis setiap teringat akan Allah dan hari akhir, setiap ayat Al Qur’an yang didengarnya menggetarkan hatinya. Dan beliau sangat merasa berduka tak terlukiskan setiap mendengar ayat Al Qur’an :”Katakanlah : Ia kuasa akan mengirim siksa kepada kalian, baik dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau membaurkan kalian dalam satu golongan berpecah-pecah, dan ditimpakan kalian perbuatan kawannya sendiri”

Kata-kata tajam Ubai Bin Ka’ab tidak sekedar didasarkan pada emosi atas kasih sayangnya terhadap umat Islam pada saat itu. Lebih dari itu, dia memikirkan kaum muslimin yang akan celaka disebabkan ulah mereka. Entah pada saat itu maupun jauh dimasa yang akan datang. Insting kepedulian yang tidak hanya mengarah pada terhadap satu generasi. Memikirkan generasi yang akan datang. Ucapan yang tidak hanya sekedar keluar karena tergugah oleh kondisi umat yang lalai, tetapi ucapan yang keluar sebagai manifestasi ayat-ayat AlQur’an yang telah diyakini kebenarannya.

Suatu ketika ia berucap kepada kaumnya ” Selagi kita bersama Rasulullah tujuan kita satu, Tetapi setelah ditinggalkan beliau tujuan kita bermacam-macam ada yang ke kiri dan ada yang kekanan!” Mengenai dunia Ubai bin Ka’ab mernah menuliskannya sebagi berikut : ” Sesungguhnya makanan manusia itu sendiri dapat diambil sebagai perumpaan bagi dunia, biar dikatakannya enak atau tidak, tetap yang penting menjadi apa nantinya?

Tidak hanya ucapan yang mengingatkan tetapi juga menyadarkan kita. Ini adalah soal hidup seorang muslim dan bagaimana menjalaninya. Tujuan kita saat ini ada yang ke kanan dan ada yang ke kiri. Yang jelas apapun yang kita lakukan di dunia ujung-ujungnya adalah pertanggungjawaban kepada Alloh. Beruntung yang menyadari bahwa hidup di dunia adalah sebagai sarana untuk merancang kehidupan hakiki yang lebih bahagia dan membahagiakan yaitu Surga.

Di dalam agama yang mulia ini, moralitas yang agung tidak sekedar bagaimana seorang muslim berjiwa luhur, berniat ikhlas, dan menjadi luar biasa secara sendiri, di dalam telaga batinnya dan samudera pikirannya saja. Akan tetapi pagar-pagar dan pengaturan lalu lintas interaksi kita dengan orang lain justru diurai dengan sangat luas, melingkupi banyak perkara dan lebih dari itu, sangat terinci. Rahasianya adalah karena kehidupan sesama manusia bahkan sesama seorang muslimpun, sangat berpeluang untuk melahirkan konflik, gesekan, perselisihan bahkan bisa jadi mengubah hidup orang lain menjadi pahit, pedih dan getir.

Sebagai seorang Muslim harus menyadari bahwa peran di hadapan yang lain bak tinta hitam pada air putih. Setitk tinta tertuang, keruh sudah air tersebut. Kita punya tangan dan lesan. Keduanya berpotensi mendatangkan senyum dan duka pada siapapun. Adakah diantara kita yang mendetail memahami ucapan Rasululloh yang tegas terkait hubungan muslim dengan tangan dan lesan? “ Seorang  muslim ialah yang orang muslim lainnya selamat dari lesan dan tangannya. Adakah yang lebih detail, dari memberi contoh bahwa sebentuk amal kebiakan adalah jika menuangkan air di wadah kita, ke tempat air saudara kita,selain Islam?

Akan tetapi ada ribuan jalan menuju nista dan petaka. Ada beragam cara menuju bencana. Tak tersadarkan oleh kita, bahwasannya semua bermula dari ulah-ulah keji kita. Banjir, gempa dan longsor adalah pertanda. Dirumah-rumah sunyi yang hanya ramai oleh perabotan mewah yang hanya enak dipandang mata sementara perasaan pahit dan getir bersenandung diatas jiwa-jiwa penghuninya. Organisasi-organisasi dakwah penuh dengan jargon-jargon sejarah, yang hanya layak untuk dituliskan. Para pelakunya sepakat untuk tidak menyepakati. Setia untuk selalu tidak setia. Kesakralan atas nama tanggungjawab sudah lusuh dan kumuh tak layak tersandang. Cinta kasih telah menjadi kisah romantisme yang telah lalu dan terlalu lama basi. Yang berkeliaran tinggal petualangan, pengabaian, penghianatan dan perselisihan. Tinggallah kesedihan diatas kesedihan tanpa ada penyesalan dan perbaikan.

Ironis kehidupan saat ini. Yang miskin dan terpuruk tak dapat membendung arus penyimpangan. Kepedihan melahirkan kepedihan lain yang beranak pinak. Kegetiran memancarkan kegetiran lain yang tak kunjung reda. Benci tingkah kawan disiksa. Iri harta saudara disandera. Dikantor-kantor terlalu banyak pejabat yang berwenang menabur kemaksiatan dan kepedihan. Di hutan-hutan banyak pembalak kayu yang membunuh orang dengan banjir kiriman, longsor dan gelondongan kayu sekali menerjang bisa puluhan nyawa melayang.

Di sekolah-sekolah, para siswa membunuh diri secara perlahan. Mereka melukiskan masa depan di atas angan-angan, dengan corengan harga diri yang tak lagi terkontrol dan tak lagi punya nilai. Di kampus, para mahasiswa yang merasa dewasa membangun kegetiran dengan membuang habis rasa malu, melakukan berbagai macam penyimpangan dan penyelewengan dengan penuh bangga dan tanpa beban. Diberbagai tempat siapa yang kuat mengalahkan yang lemah tanpa memperdulikan dalihnya. Sebenarnya usia semakin bertambah tua. Akan tetapi ilmu, kesadaran dan pengetahuan tak kunjung datang.

Ubai Bin Ka’ab telah mengingatkan jauh hari hari sebelum kita ada. Bahkan tak kurang, Qur’an dan Sunnah yang terjaga sampai sekarang ada disisi kita. Siapapun yang sadar, bahwa tidak sepantasnya ia menjadi penyebab orang lain pedih dan getir, dalam bentuk apapun, sejujurnya ia telah menjaga keharmonisan hidup ini. Sekarang maupun yang akan datang. Bila kaidah fiqih telah memberi batasan legalitas, maka akhlaq dan moralitas memberi nilai yang luar biasa pada seni keindahan dalam hidup. Ada batasan wajib yang syah dah legal secara minimal, tetapi ada pesona sunnah yang mempercantik dan membuatnya lebih berwarna untuk dilaksanakan. Seperti itulah ajaran dalam Islam. Seperti itu pulalah pilihan kita dalam hidup ini.

Layaknya menahan emosi, kita berhak dan dapat meluapkannya. Begitu pula soal kondisi disekitar kita. Kesadaran akan menyampaikan kebaikan dan membuat keadaan menjadi lebih baik adalah tanggungjawab kita. Tidak akan ada kemurkaan dan bencana di muka bumi selama kita patuh kepada-Nya. Yang ada hanyalah ujian kasih sayang. Seberapa besar cinta kita kepada Alloh atas kondisi yang terjadi. Bertahankan atau lunturkah cinta. Tidak saja untuk konsistensi di atas jalan yang ditetapkan, tetapi untuk seni memperindah kehidupan dan merajut ukhwah kebersamaan dengan pengharapan akan ridho dari Alloh SWT.

Hidup adalah pilihan begitu kata mudah untuk mengambarkan. Diantara pilihan-pilihan ada keterhormatan dan kehinaan. Curahan tingkah dan nilai-nilai dalam rasa harus memakna untuk kita dan sesama. Sangat sulit dan tidak mudah. Tetapi menghidupkan nuansa spiritual untuk berhidup vertikal dan horizontal selalu menghadapi godaan dari Nafsu kita sendiri. Jangan biarkan romantisasi indah masa lalu yang terukir pada masa sahabat sirna dan basi. Tautkan diri kta pada anak panah arah yang mengarah pada jalur yang benar.

(Teruntuk saudaraku yang mulai terlelap dalam keindahan fatamorgana)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: