Kejujuran Cinta

“Dan Tuhan mu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Alloh turunkan dari langit berupa air, lalu dengan itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Alloh) bagi kaum yang memikirkan.

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Alloh. Dan jika seandainya orang-orany yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Alloh semuanya dan bahwa Alloh amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)” (Q.S Al Baqoroh ayat 163-165)

Ada diantara kelompok manusia yang manakah kita ?

Saudaraku,
Pernahkah terfikir oleh diri, ketika pagi hari kita memulai aktivitas, berapa banyak orang yang mendasarkan seluruh aktivitasnya atas keridhoan Alloh? Setiap kali pikiran itu terlintas, sepenuh syukurlah harusnya kita panjatkan pada Alloh bahwa saat itu dan saat ini kita masih mendasarkan langkah kita atas ridho Alloh dan senantiasa merasa berada dalam pengawasanNya.


Satu kenikmatan untuk bisa diizinkan belajar mencinta Alloh, belajar menghayati setiap hikmah dari tiap kejadian dari kehendaknya, belajar menikmati pemeliharaan-Nya, teguran-teguran-Nya, yang seluruhnya adalah bukti cintaNya.

Berapa banyak pelajaran yang menjadikan kita dekat pada-Nya, bersandar pada-Nya dan merasakan pemeliharaan-Nya. Belajar memaknai bahwa seluruh kehidupan yang kita jalani adalah bentuk cinta-Nya pada seluruh makhluk ciptan-Nya dan hamba yang terpilih untuk dicintai secara lebih.

Dengan seluruh bukti cinta-Nya
Masih adakah ruang yang tersisa untuk yang lain selain Dia

Yang pasti satu yang nyata
Adalah kebahagiaan untuk bisa membawa seluruh jiwa tunduk pada Alloh
Robb yang maha dicinta
Seperti tunduknya semesta yang tanpa penolakan sedikitpun
Seperti tunduknya raga yang sebenarnya tidak pernah tunduk pada jiwa

Teguran untuk diri
Malu rasanya menginjak tanah yang begitu tunduk pada Alloh
Malu menginjak-injaknya, sementara dia jauh lebih tunduk dibandingkan kita
Malu menginjak rumput, semut yang nyata-nyata jauh lebih tunduk dibanding kita

Akhirnya sudah waktunya untuk membawa diri tunduk patuh pada Alloh dengan sebenar-benarnya. Sebuah ketundukkan karena cinta yang benar, cinta yang melingkupi seluruh jiwa dan raga yang tidak menyisihkan tempat sedikitpun untuk yang lain selain Dia.

Sebuah kepatuhan yang ikhlas yang tidak lagi merasakan sebuah pengorbanan sebagai pengorbanan Karena tidak ada pengorbanan untuk yang Maha Tercinta. Yang ada hanya keinginan untuk mencintai agar dicintai oleh Sang Pemilik Cinta.Tidak ada pengorbanan dalam da’wah ini, yang ada adalah keinginan membuktikan cinta. Yang akhirnya sanggup menggeser kesabaran menjadi sebuah kesyukuran bahwa dalam ujian pun kita merasakan itu adalah karena cinta-Nya dan sebuah kesempatan untuk membuktikan cinta kita pada-Nya. Bukankah kesyukuran yang layaknya dirasakan karena pada waktu sempitlah kita bisa merasakan kebenaran cinta-Nya, bahwa pertolongan-Nya amat dekat, Kasih sayangNya begitu indah dan impian berjumpa dengan Nya adalah sumber kebahagiaan.

Sebuah cinta yang jujur seperti dialog tak terlupakan antara empat orang tokoh Rabi’ah Al’adawiyah, Sufyan Attsauri, Syaqiq Albikhi dan Malik Bin Dinar ketika Rabi’ah meminta mereka mendefinisikan kejujuran.

“Tak jujur pengakuan cinta seseorang yang tak bersabar menahan pukulan tuannya”, ungkap Sufyan Attsauri.

“Tak jujur pengakuan seseorang yang tak bersyukur atas pukulan tuannya”‘ jawab Syaqiq Albikhi.

“Tak jujur pengakuan seseorang yang tak bernikmat-nikmat dipukul tuannya”, sergah Malik bin Dinar.

“Tak jujur pengakuan seseorang yang tak melupakan pukulan ketika menghadap tuannya”‘ jabar Rabi’ah Al’adawiyah.

Begitu jujurnya CINTA. Ada yang begitu sabar menahan derita hidup. Ada yang begitu tahan menerima derita da’wah. Dan ada yang begitu syukur dan bahkan menikmati derita sebagai karunia. Semuanya indah, terutama pada sang totalis (shahibu’t tajrid) yang tak menyadari derita, karena yang ada hanyalah Dia.

Saudaraku, mari mencinta Alloh dengan sebenar-benarnya cinta. Mari saling mendoa agar kita semua terpilih untuk memiliki cinta yang Jujur. Semoga Alloh mengumpulkan kita semua dalam satu taman yang disana kita bisa saling bertukar cerita tentang tentang semua pengalaman perang, semua usaha membuktikan kecintaan, dan tentang semua bukti cintaNya.

Kau tentang Tuhan dan nampakkan cinta
Dia Demi Alloh
ini perkara luar biasa
Bila cintamu benar tentulah kau taat Dia
Karena setiap kekasih Kepada kekasihnya pastilah setia (imam Syafi’i RA)

Wallahu’alam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: