Mengenang Kejayaan Islam.

Awal kemunculan dan perkembangan sains di dunia Islam tidak dapat dipisahkan dari sejarah ekspansi Islam itu sendiri. Dalam tempo sekitar 25 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (632 M), kaum Muslim telah menaklukkan seluruh jazirah Arab. Ekspansi dakwah yang diistilahkan ‘pembukaan negeri-negeri’ itu berlangsung pesat. Pelebaran sayap dakwah Islam ini tentu bukan tanpa konsekuensi. Seiring dengan terjadinya konversi massal dari agama asal atau kepercayaan lokal ke dalam Islam, terjadi pula penyerapan terhadap tradisi budaya dan peradaban setempat. Proses interaksi yang berlangsung alami namun intensif ini tidak lain adalah gerakan islamisasi. Unsur-unsur dan nilai-nilai masyarakat lokal ditampung, ditampih, dan disaring dulu sebelum kemudian diserap. Dalam proses interaksi tersebut, kaum Muslim pun terdorong untuk mempelajari dan memahami tradisi intelektual negeri-negeri yang ditaklukkannya.

Melihat prestasi gemilang itu mungkin muncul pertanyaan dalam benak kita, bagaimana hal itu bisa terwujud. Lebih dari seratus artefak dan manuskrip dalam pelbagai bidang ditampilkan menawan, siapapun yang melihatnya akan terkesima. Prestasi yang patut dibanggakan oleh umat Islam saat itu. Akan tetapi kebanggaan saja tidak cukup. Kita harus berupaya membangkitkan kembali kejayaan tersebut. Analisis yang mendasar yang harus tertanam dalam diri setiap intelektual muslim paling tidak adalah pertanyaan bagaimana umat Islam mencapai kejayaan itu. Disisi lain kita patut berfikir juga kenapa kejayaan itu tiba-tiba lenyap. Hal ini merupakan hal yang mengherankan.

Jika dikaji dan ditelusuri dengan teliti, banyak faktor-faktor yang telah memungkinkan dan mendorong kemajuan sains di dunia Islam saat itu. Namun ini bersifat subjektif karena masih banyak faktor yang dapat kita jadikan alasan. Pertama, kesungguhan dalam keimanan. Berkat kesungguhan dalam mengimani mempraktikkan ajaran Islam sebagaimana tertuang dalam Alquran dan Sunah itu lahirlah individu-individu unggul. Individu yang memiliki pendirian yang kuat dan tidak tergoyahkan oleh segala godaan yang menjadi larangan-larangan dalam Islam. Kedua, motivasi agama Islam. Kesungguhan dalam beriman menjadikan semua yang terdapat dalam Al Quran dan Sunnah hal yang wajib dipelajari dan dikaji. Imbasnya adalah munculnya para cendekiawan-cendekiawan muslim terkenal dengan karya dan penemuannya sungguh luar biasa.

Ketiga adalah tata kehidupan sosial politik dalam bermasyarakat. Sistem tata kehidupan bermasyarakat yang didasarkan dengan kekhalifahan yang menyangkut pembangunan segala aspek kehidupan, telah menjadikan kehidupan umat Islam jaya. Keempat adalah faktor ekonomi. Tidak bisa dipungkiri, ditanah arab memang tersimpan banyak kekayaan. Perdagangan berjalan dengan baik sehingga mampu mendorong kehidupan ekonomi masyarakat. Faktor kelima, yang tak kalah pentingnya adalah dukungan dan perlindungan penguasa saat itu. Sistem pemerintahan yang mendukung kehidupan umat Islam untuk mencapai kejayaan tercermin ketika masa kekhalifahan maupun masa-masa para sahabat.

Lantas mengapa perjalanan sains di dunia Islam seolah-olah mendadak berhenti? Menjawab pertanyaan ini tidaklah sesederhana melontarkannya. Secara umum, faktor-faktor penyebab kematian sains di dunia Islam dapat dikelompokkan menjadi dua, internal dan eksternal. Menurut Profesor Sabra (Harvard) dan David King (Frankfurt), kemunduran itu dikarenakan pada masa berikutnya, kegiatan saintifik lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis agama. Aritmatika dipelajari karena penting untuk menghitung pembagian harta warisan. Astronomi dan geometri (atau lebih tepatnya trigonometri) diajarkan terutama untuk membantu para muwaqqit menentukan arah kiblat dan menetapkan jadwal shalat. Tidak lebih dari itu. Sementara orang-orang non muslim justru memakainya sebagai landasan untuk mengembangkan teknologi yang mutakhir.

Penjelasan semacam ini tidak terlalu tepat, sebab asas manfaat ini acapkali justru berperan sebaliknya, menjadi faktor pemicu perkembangan dan kemajuan sains. Jawaban lain menyatakan bahwa oposisi kaum konservatif, krisis ekonomi dan politik, serta keterasingan dan keterpinggiran sebagai tiga faktor utama penyebab kematian sains di dunia Islam. Ini pendapat David Lindberg (1992). Menurut dia, sains dan saintis pada masa itu seringkali ditentang dan disudutkan. Ia menunjuk kasus pembakaran buku-buku sains dan filsafat yang terjadi antara lain di Cordoba. Krisis ekonomi dan kekacauan politik amat berpengaruh terhadap perkembangan sains.

Selain itu, beberapa faktor internal seperti kelemahan metodologi, kurangnya matematisasi, langkanya imajinasi teoritis, dan jarangnya eksperimentasi, juga dianggap sebagai penyebab stagnasi sains di dunia Islam. Pendapat ini disanggah oleh Toby Huff. Menurut dia, mengapa di dunia Islam yang terjadi justru kejumudan dan bukan revolusi sains lebih disebabkan oleh masalah sosial budaya ketimbang oleh hal-hal tersebut. Buktinya, Copernicus pun didapati menggunakan model dan instrumen yang didesain oleh At Tusi. Tradisi saintifik Islam, tegas Huff, juga terbukti cukup kaya dengan pelbagai teknik eksperimen dalam bidang astronomi, optik maupun kedokteran.

Ada juga klaim yang menghubungkan kemunduran sains dengan sufisme. Memang benar, seiring dengan kemajuan peradaban Islam saat itu, muncul berbagai gerakan moral spiritual yang dipelopori oleh kaum sufi. Intinya, adalah penyucian jiwa dan pembinaan diri secara lebih intensif dan terencana. Pada perkembangannya, gerakan-gerakan tersebut kemudian mengkristal jadi tarekat-tarekat dengan pengikut yang kebanyakannya orang awam.

Popularisasi tasawuf inilah yang bertanggung jawab melahirkan sufi-sufi palsu (pseudo-sufis) dan menumbuhkan sikap irrasional di masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang lebih tertarik pada aspek-aspek mistik supernatural seperti keramat, kesaktian, dan sebagainya ketimbang pada aspek ritual dan moralnya. Obsesi untuk memperoleh kesaktian dan kegandrungan pada hal-hal tersebut pada gilirannya menyuburkan berbagai bentuk bid’ah, takhayyul dan khurafat. Akibatnya yang berkembang bukan sains, tetapi ilmu sihir, pedukunan dan aneka pseudo-sains seperti astrologi, primbon, dan perjimatan.

Memasuki era modern, sikap kaum Muslim terhadap sains terpecah menjadi tiga. Ada yang anti dan menolak mentah-mentah, ada yang menelan bulat-bulat tanpa curiga sedikitpun, dan ada yang menerima dengan penuh kewaspadaan. Sikap yang pertama maupun yang kedua kurang tepat karena sama-sama ekstrem. Sikap yang paling bijak adalah bersikap adil, pandai menghargai sesuatu dan meletakkannya pada tempatnya dalam koridor yang masih syar’i. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa kemajuan ataupun kemunduran sains dipengaruhi oleh dan tergantung pada banyak faktor internal maupun eksternal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: