Etika Bisnis Dalam Ekonomi Islam

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.
Bisnis modern merupakan realitas yang amat kompleks. Banyak faktor turut mempengaruhi dan menentukan kegiatan bisnis, antara lain faktor organisatorismanajerial, teknologis, dan politik-sosial-kultural. Al quran dan hadist sebagai pedoman umat islam mengatur kegiatan berbisnis. Akan tetapi pelaksanaan bisnis secara islami belum terwujud.
Jika kita menelusuri sejarah, perdagangan dan kegiatan ekonomi dalam islam tampak pandangan positif seperti Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang dan agama islam disebarluaskan melalui para pedagang muslim. Allah memperbolehkan kegiatan perdagang tersebut diantaranya jual beli dalam surat Al Baqarah ayat 275.

“orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(Q.S.Al Baqarah:275)”

1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana bisnis yang menguntungkan dan perilaku bisnis yang dilarang dalam Islam dan upaya legitimasi melalui Al-qur’an dan Hadist?
2. Bagaimana langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan etika bisnis secara islami dan upaya legitimasi melalui ayat-ayat suci Al-qur’an bagi umat beragama dan masyarakat luas di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penulisan ini adalah:
1. Mengetahui bisnis yang menguntungkan dan perilaku bisnis yang dilarang dalam Islam dan upaya legitimasi melalui Al Quran dan Hadist.
2. Mengetahui langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan etika bisnis secara Islami dan upaya legitimasi melalui ayat-ayat suci Al-qur’an bagi umat beragama dan masyarakat luas di Indonesia.

1.4 Manfaat Penulisan
1. Memberikan pemahaman kepada pembaca tentang etika berbisnis sesuai dengan sistem Ekonomi Islam.
2. Mendapatkan langkah preventif dalam mencegah bisnis yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.

BAB II
TINJUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Ekonomi Islam.
Prinsip dasar ekonomi yang terdapat dalam Al Quran bersifat universal. Dalam arti, semua masyarakat muslim harus mengikuti aturan tersebut dalam menjalankan aktivitas ekonomi, namun dalam tataran aplikasinya bisa mengambil kebijakan tertentu sesuaikan dengan kondisi sosio-ekonomi masyarakat. Implementasi prinsip dasar ekonomi dalam Al Qur’an berbeda antara satu negara dengan negara lain. Hal itu dikarenakan terdapat perbedaan konteks ataupun situasi masyarakat yang melatarbelakanginya. Dalam kehidupan ekonomi masyarakat muslim, yang paling penting adalah perlu merumuskan kaidah, konsep dasar, serta tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh sistem ekonomi Islam, tentunya hal itu bersumber dari hukum-hukum Islam yang bersifat kekal dan abadi. Untuk itu, diperlukan sebuah upaya dari intelektual muslim guna merekonstruksi persoalan yang dimaksud, dengan melakukan penelitian, dan analisa teks-teks ekonomi yang terdapat dalam al Qur’an dan Hadist Nabi. Nilai-nilai yang mampu dikaji dari kedua sumber tersebut, diharapkan bisa bersenyawa dengan realitas yang ada, sehingga akan melahirkan peradaban baru dalam kehidupan manusia yang syarat dengan norma dan etika. (www.baitulmaal.com/ekonomi-dalam-perspektif-al-quran.html)

Meskipun demikian, sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang “asli” bersumber pada nilai-nilai ajaran Islam. Sistem ekonomi Islam dibangun di atas keyakinan dasar bahwa alam dan segala isinya termasuk manusia adalah ciptaan Allah swt, dan bahwa sebagai makhluk dan khalifatullah fil ardh, manusia berkewajiban menjalankan dua tugas utama, yaitu bertauhid kepada Allah (rububiyah, uluhiyah, maupun mulkiyah) dan memakmurkan dunia sesuai dengan cara-cara yang diperintahkan-Nya. Begitu juga, sistem ekonomi islami didasarkan pada keyakinan bahwa Muhammad saw adalah rasul dan utusan Allah, pembawa kabar gembira sekaligus uswatun hasanah bagi seluruh manusia. (Akhmad Akbar Susamto dan Malik Cahyadin.2008)

2.2 Etika Bisnis Dalam Islam
Etika dipahami sebagai perangkat prinsip moral yang membedakan apa yang benar dari apa yang salah, sedangkan bisnis adalah suatu serangkaian peristiwa yang melibatkan pelaku pebisnis, maka etika diperlukan dalam bisnis. Etika bisnis adalah norma-norma atau kaidah etik yang dianut oleh pebisnis, baik sebagai institusi atau organisasi, maupun dalam interaksi bisnisnya dengan stake holders-nya. Bisnis (tijarah) dalam Al-Qur’an pada hakikatnya tidak semata-mata bersifat material yang bertujuan mencari keuntungan material semata, tetapi juga immaterial, bahkan lebih meliputi dan mengutamakan hal yang bersifat immaterial dan kualitas. Aktivitas bisnis tidak hanya dilakukan manusia dengan manusia tetapi juga dilakukan antara manusia dengan Allah, bahwa bisnis harus dilakukan dengan ketelitian dan kecermatan dalam proses administrasi dan perjanjian-perjanjian dan bisnis tidak boleh dilakukan dengan cara penipuan, kebohongan, hanya karena memperoleh keuntungan. Hal itu sudah menjadi etika yang dilakukan oleh orang muslim. ( http://hendrowibowo.niriah.com/ Konsep-Etika-Bisnis-dalam-Islam).

2.3 Al Qur’an Sebagai Upaya Legitimasi Etika Bisnis.
Legitimasi merupakan suatu pembenaran atau pengesahan suatu tindakan menurut hukum atau perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, legitimasi merupakan suatu pembuktian sah jati diri seseorang. Legitimasi dalam kaitannya dengan bisnis merupakan pembenaran melakukan kegiatan perdagangan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Al Quran mengatur kegiatan bisnis secara eksplisit dengan banyaknya instruksi yang sangat detail tentang hal yang dibolehkan dan tidak dibolehkan dalam menjalankan praktek bisnis. (Mirza Gamal,2006).
Bisnis merupakan salah satu cara untuk mencari uang. Al Quran tidak melarang setiap muslim untuk mencari kekayaan dengan cara halal. Akan tetapi jika bisnis tersebut merupakan penyalahgunaan kekayaan sangat dilarang oleh islam sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah 275.

orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.( Q.S. Al Baqoroh:275)
Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam posisi yang amat strategis di tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan. Hal ini dapat dilihat pada sabda Rasulullah SAW: ”Perhatikan olehmu sekalian perdagangan, sesungguhnya di dunia perdagangan itu ada sembilan dari sepuluh pintu rezeki”.
Kunci etis dalam bisnis sesungguhnya terletak pada pelakunya, itu sebabnya misi diutusnya Rasulullah SAW ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah rusak. Seorang pengusaha muslim berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis islami yang mencakup Husnul Khuluq. Pada derajat ini Allah akan melapangkan hatinya, dan akan membukakan pintu rezeki, dimana pintu rezeki akan terbuka dengan akhlak mulia tersebut, akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan melahirkan praktik bisnis yang etis dan moralis. Salah satu dari akhlak yang baik dalam bisnis Islam adalah kejujuran.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.(QS: Al Ahzab;70-71)”.

BAB III
METODOLOGI PENULISAN

Teknik pengumpulan data diambil dari berbagai sumber yaitu artikel-artikel di internet, buku literatur, jurnal, koran, dan beberapa makalah yang mendukung. Data yang dikumpulkan mengenai perilaku kekerasan dan upaya legitimasi dengan melalui Ayat-ayat suci Al-Qur’an. Teknik pengolahan data menggunakan analisis data kualitatif yaitu mendeskripsikan fenomena, mengklasifikasikannya, dan melihat bagaimana konsep-konsep yang muncul itu saling berkaitan dengan yang lainnya. (Nana Syaodih Sukmadinata, 2006: 60).

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Bisnis Yang Menguntungkan.
Setiap pebisnis pasti mengharapkan adanya keuntungan dari usaha yang dilakukan. Sebagai umat Islam berharap bahwa bisnis yang dilakukan tersebut membawa keuntungan tidak hanya di dunia saja, tetapi juga di akhirat. Bisnis yang menguntungkan tersebut tidak terlepas dari proses yang dilakukan oleh para pebisnis.
a) Investasi modal yang sebaik-baiknya.
Modal diperlukan untuk mengawali bisnis. Kemampuan untuk menginvestasikan modal dengan baik berpengaruh besar terhadap keuntungan yang diperoleh. Investasi modal harus diarahkan pada bentuk bisnis yang dibutuhkan pasar. Selain itu bentuk usaha harus diperhatikan. Usaha yang diperbolehkan oleh islam seperti apa saja. Misalnya, Islam sangat melarang bisnis minuman keras. Maka bisnis minuman keras tidak boleh dilakukan sebagaimana firman Alloh dalam Al Maidah ayat 30 yang artinya:’ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan’.
b) Keputusan yang sehat.
Tantangan yang dihadapi ketika bisnis sudah berjalan sangat banyak. Pesaing bisnis akan mendorong pebisnis yang lain untuk berkreasi dalam menarik konsumen dan mendapatkan keuntungan yang banyak. Pada kondisi seperti inilah keputusan pebisnis dalam menjalankan usahanya sangat diperlukan. Adanya persaingan harus membuat pebinis semakin kreatif. Kita sering mendengar,banyak pebisnis yang membuat keputusan yang tidak ketika merasa tersaingi. Misalnya pergi ke dukun untuk pelarisan atau pergi ke suatu tempat untuk mengadu. Padahal itu adalah perbuatan syirik. Syirik sendiri sangat dilarang oleh Alloh sebagaimana Firman-Nya dalam surat An Nisa ayat 48:” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. “
c) Perilaku yang benar.
Tindakan yang dilakukan oleh pebisnis berimbas pada bisnis yang dilakukan. Setiap perlaku pebisnis menjadi perhatian para konsumen atau pembeli. Pebisnis yang bertindak semena-mana dalam menjalankan usahanya hanya akan membuat konsumen menjauh ke tempat lain. Jika konsumen atau pelanggan pergi, maka keuntungan yang didapatkan juga berkurang bahkan bisnis bisa menjadi bangkrut. Apalagi jika pebisnis membuat kerusakan yang menimbulkan kerugian bagi yang lain misalnya merusak tempat usaha orang lain karena merasa tersaingi. Selain tidak menguntungkan secara materi maka kerugian diakhirat pun akan didapatkan karena telah membuat kerusakan di muka bumi dan menyakiti sesama manusia. Akan tetapi jika bisnisnya dilakukan dengan perlaku yang benar maka banyak konsumen yang akan mendekat sehinggga keuntungan akan semakin bertambah.

4.2 Perilaku Bisnis yang Dilarang.
Seperti yang disampaikan dalam tinjaun pustaka bahwasannya aktivitas bisnis tidak hanya dilakukan manusia dengan manusia tetapi juga dilakukan antara manusia dengan Allah, bahwa bisnis harus dilakukan dengan ketelitian dan kecermatan dalam proses administrasi dan perjanjian-perjanjian dan bisnis tidak boleh dilakukan dengan cara penipuan, kebohongan, hanya karena memperoleh keuntungan. Sebagai umat islam harus menghindari praktik-praktik bisnis terlarang. Bisnis yang halal pun menjadi dilakukan apabila dilakuka dengan cara riba dan penipuan.

a) Riba
Dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 275 djelaskan bahwasannya Alloh memperboleh jual-beli dan mengharamkan adanya riba. Larangan Allah SWT yang lain tentang riba terdapat dalam surat Al Imran ayat 30 yang artinya:” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. Riba sangat dilarang oleh Islam karena dapat merugikan orang lain. Meskipun riba seolah-olah menguntungkan atau menambah harta sejatinya riba itu tidak menambah sama sekali dihadapan Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ar Ruun ayat 30 yang artinya:” Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.”
Kejahatan riba sering dilakukan karena dirasakan menguntungkan. Bentuk riba yang terjadi dalam masyarakat adalah meminjamkan uang dengan syarat jumlah yang harus dikembalikan lebih besar. Kelebihan itulah yang disebut riba. Sepintas memang menolong karena memberikan bantuan kepada yang lain. Akan tetapi pada akhirnya menjadi beban karena jumlah yang dikembalikan lebih besar dari apa yang dipinjamkan.
b) Penipuan.
Keuntungan yang besar merupakan motivasi utama para pebisnis. Maka tidak heran apabila berbagai cara dilakukan oleh para pebisnis agar mendapat keuntungan tersebut. Perbuatan terlarang yang sering dilakukan oleh pebisnis untuk memperoleh keuntungan adalah praktik penipuan. Ragam penipuan tersebut antara lain tidak jujur dalam berbisnis dan curang dalam timbangan.
Pebisnis sering kali melupakan etika bisnis dalam usahanya. Ucapan-ucapan yang disampaikan kepada para pembeli atau konsumen tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Barang yang ada cacatnya dikatakan masih sempurna dengan tujuan memperoleh untung yang besar. Barang-barang dagangan yang jelek dicampur dengan barang-barang yang bagus agar semua terjual sehingga tidak rugi. Islam sangat menghargai kejujuran baik dalam perdagangan maupun kegiatan yang lain. Kebohongan dalam berbisnis jangan sampai dianggap ringan karena Allah menganggap itu besar sebagaimana dalam firmannya surat An Nuur ayat 24 yang artinya:” (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”
Selain tidak mengatakan dengan jujur,untuk mendapat keuntungan melakukan kecurangan dalam timbangan. Nilai ukur timbangan dirubah. Pada saat menjual, berat benda yang seharusnya lima kilogram hanya menjadi sekitar enam kilogram. Pada saat membeli ukurannya diperkecil dari yang seharusnya ditmbang lima kilogram menjadi empat kilogram. Praktek bisnis seperti ini sangat dilarang oleh Alloh dalam surat Al Mutafiffin ayat 1-3 yang artinya: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”
4.3 Mewujudkan Etika Bisnis Yang Islami.

Berbisnis merupakan salah satu cara yang untuk memenuhi kebutuhan. Etika berbisnis secara Islam penting untuk diketahui agar apa yang dilakukan tidak membawa madhorat. Apalagi di era modern dan penuh tantangan, etika-etika dalam berbisnis kurang diperhatikan lagi. Orientasi sebagian pebisnis hanyalah keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memandang cara yang dilakukan sudah benar atau belum, sudah sesuai dengan nilai-nilai Islam atau belum. Oleh sebab itu sangat diperlukan metode agar bisnis yang dilakukan mencerminkan nilai-nilai keislaman. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mewujudkan iklim bisnis yang islami.

a) Menanamkan pemahaman tentang pentingnya etika berbisnis melalui Al Quran.
Ada dua kemungkinan para pebisnis melakukan bisnisnya tanpa memperhatikan etika bisnis. Yang pertama, memang karena tidak tahu bagaimana Islam mengajarkan cara berbisnis yang benar. Mereka berbisnis dilakukan dengan cara-caranya sendiri yang terpenting mendapat keuntungan. Kedua, mereka mengetahui akan tetapi tidak mau melaksanakan karena etika itu mereka pandang tidak akan membawa keuntungan yang besar. Oleh sebab itu langkah awal yang harus dilakukan adalah menanamkan tentang pentingnya etika berbisnis. Cara –cara berbisnis harus bersandar pada Al Quran. Metode bisnis yang dilakukan harus tidak boleh bertentangan dengan Al Quran.
Orang Islam percaya sepenuhnya pada isi Al Quran.Jika ada yang berbisnis haram misalnya disampaikan ayat Al Quran yang terkait minuman keras. Setelah semua bentuk bisnis memperoleh pemahaman, orang Islam dalam hal ini pebisnis akan berfikir dalam berbisnis dan berhati-hati dalam melakukannya.

b) Pencerahan etika bisnis melalui media
Dalam bisnis modern paling tidak disaksikan cara-cara tidak terpuji yang dilakukan sebagian pebisnis dalam melakukan penawaran produknya, yang dilarang dalam ajaran Islam. Penawaran dilakukan melalui berbagai media. Bentuk penawaran sering fiktif dan ada yang mengeksploitasi wanita seperti dalm iklan kosmetik. Cara-cara tersebut merupakan contoh kecil dari penyelewengan dari etika bisnis. Media elektronik maupun cetak memegang peranan besar dalam mempublikasikan. Oleh karena itu peran dalam menawarkan produk juga harus diatur. Pengaruh yang diberikan media pada peminat sangat besar. Jika semua media sudah memiliki ketegasan dalam mengatur masalah penawaran produk maka etika bisnis yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Islam. Perihal terpenting adalah membuat media tersebut sebagai sarana untuk membuka wawasan tentang etika bisnis dalam Islam. Misalnya,untuk media cetak ada kolom yang membahas masalah etika bisnis. Tujuannya agar semua pembaca terutama para pebisnis mengetahui.
c) Penggalangan aksi untuk mengarahkan bisnis yang beretika islami dan upaya legitimasi melalui ayat-ayat Al Quran.
Langkah terakhir yang ditempuh untuk mewujudkan budaya bisnis yang Islami adalah pengalangan aksi. Upaya penggalangan aksi etika bisnis melalui legitimasi ayat-ayat Al Quran harus mendapat dukungan dari segala pihak. Berbisnis merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan hidup akan tetapi harus dilandasi dengan nilai-nilai keislaman untuk menjunjung harkat dan martabat manusia. Dengan aksi ini diharapkan bisa menjadi perhatian bagi pemerintah akan pentingnya berbisnis yang baik. Karena selama ini masalah etika berbisnis tidak begitu diperhatikan pemerintah. Terbukti dengan cara berbisnis yang ada di berbagai media. Cara penawaran barang masih ada yang menyinggung produsen lain. Ada yang mengeksploitasi wanita dengan memamerkan auratnya secara berlebihan. Padahal itu semua jelas tidak tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia. Selain itu bisa menjadi sumber dosa bagi yang melihatnya, sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nur :30

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang m yangmereka perbuat”.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan.
a) Bisnis yang menguntungkan adalah bisnis yang dilakukan dengan investasi yang sebaik-baiknya,keputusan yang sehat dan perilaku yang benar. Perilaku bisnis yang dilarang oleh Islam adalah adanya praktek riba dan penipuan.
b) Langkah yang dapat dilakukan sekaligus solusi alternatif untuk mewujudkan etika bisnis sesuai dengan sistem ekonomi Islam adalah menanamkan pemahaman tentang penting etika berbisnis melalui Al Quran, pencerahan etika bisnis melalui media dan penggalangan aksi untuk mengarahkan bisnis yang beretika Islami dan upaya legitimasi melalui ayat-ayat Al Quran.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Al Mukaffi. 2000. Kategori Acara TV dan Media Cetak Haram di Indonesia. Jakarta timur. Darul Falah.
Achyar Eldine. 2006. Etika Bisnis Islam. Diambil tanggal 30 Mei 2009 dari: http://www.uika-bogor.ac.id/doc/public/etika-bisnis-islam.pdf
Hendro Wibowo. 2006.Konsep Etika Bisnis Dalam Islam. Diambil Tanggal 29 Mei 2009 dari: http://hendrowibowo.niriah.com/ Konsep-Etika-Bisnis- dalam-Islam
K. Bertens. 2000. Pengantar Etika Bisnis, Penerbit Kanisius.
Mansur,Husain.2009 Keunikan Moneter Dalam Al Quran. Diambil tanggal 1 Juni 2009 dari: http://www.pkesiteraktif.com
M.Quroish Shihab.2006. Wawasan Al Quran. Diambil tanggal 1 Juni 2009 dari : http://media.isnet.org/islam/ekonomi/index.html
Merza Gamal. 2006. Konsep Bisnis Dalam Al Quran. Diambil tanggal 3 Juni 2009 dari: http://www.mail-archive.com/ekonomi-nasional.html
Nana Syaodih Sukmadinata. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosda.
Tim Multitama Communication, 2006. Islamic Business Strategy for Entrepreneurship,Zikrul Media Intelektual.
http://www.journal.uii.ac.id/index.php/Iqtisad/article/view/367/283
http://www.baitulmaal.com/otonomi-dalam-perspektif-al-quran.html
http://www.malaysiathinktank.org.uk

2 Tanggapan

  1. Cocok untuk bahan materi di http://mmutp19.wordpress.com.
    Salam ta’aruf dan mohon ijin copas. Silahkan mampir juga di http://hermansuryantoadaapahariini.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: