Pandu Gelombang Serat Optik

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada saat ini banyak pengembangan teknologi pembuatan piranti optik dalam bentuk sirkit optik terpadu termasuk piranti optik yang terbuat dari bahan tak linier. Optika terpadu merupakan teknologi yang  akan berperanan besar pada masa depan antara lain untuk aplikasi sensor fotonik, komunikasi dan switching fotonik. Pandu gelombang merupakan komponen dasar dari rangkaian optika terpadu tersebut. Struktur berlapis jamak merupakan salah satu struktur yang sering dipakai sebagai approksimasi untuk pandu gelombang berindeks terdistribusi (graded index) maupun pandu gelombang 3 dimensi.

piranti-piranti optik yang terbuat dari bahan tak linier dalam bidang optoelektronik mempunyai banyak aplikasi, misalnya sebagai pembangkit laser harmonik kedua, bistabilitas maupun pandu gelombang. Pembuat sirkit optik terpadu tersebut dapat terealisasi hanya bila piranti-piranti optik itu dibuat membentuk struktur pandu gelombang, dan sangat dikehendaki yang berdimensi moda tunggal khususnya moda dasar.

1.2 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dalam percobaan ini yaitu mengamati dan menggambarkan pola medan dari serat optik yang menggunakan sumber cahaya laser He-Ne .

1.3 Tujuan

Tujuan dari percobaan pemanduan gelombang serat optik ini adalah mengamati dan menggambarkan pola medan dari serat optic.

1.4 Sistematika Laporan

Sistematika dari penyusunan laporan ini dilakukan dengan penulisan abstrak yang memberikan gambaran umum mengenai percobaan dan hasil percobaan,bab 1 pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan, permasalahan dari percobaan yang akan dilakukan. Bab 2 berisi pustaka yang mendukung percobaan ini. Bab 3 berisi metodologi pelaksanaan percobaan yang ditamabah dengan skema percobaan. Bab 4 berisi analisis data, pembahasan, perhitungan, dan perlakukan percobaan. Bab 5 berisi kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan. Pelampiran nama pustaka yang diambil untuk tinjauan pustaka dalam daftar pustaka.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pandu Gelombang Optik

Pandu gelombang optik juga dikenal dengan sebutan pandu gelombang dielektrik adalah suatu piranti optik yang dibuat dengan menyisipkan lapisan film diantara lapisan kover dan substrat. Pandu gelombang optik berfungsi untuk menyalurkan energi gelombang optik dalam bentuk buntelan energi atau yang sering disebut dengan moda energi. Struktur geometri pandu gelombang optik dengan indeks bias lapisan kover, film dan substrat berturut-turut adalah n1, n2, dan n3. Pemanduan cahaya dalam pandu gelombang hanya terjadi bila n2 > n3 ≥ n1 dan tebal lapisan filmnya harus lebih besar dari tebal terpancungnya. Hal ini disebabkan karena gelombang optik yang terpandu dalam lapisan film merupakan gelombang optik yang harus mengalami pemantulan internal total setelah menumbuk bidang batas film-substrat dan film-kover.

Berdasarkan struktur geometrisnya pandu gelombang optik dibedakan atas pandu gelombang dua dimensi (2-D) atau pandu gelombang papak bila pembatasan gelombang optik terpandu hanya terjadi dalam arah sumbu x dan pandu gelombang tiga dimensi (3-D) atau disebut dengan pandu gelombang berstruktur kanal bila pembatasan gelombang optik terpandu terjadi dalam arah sumbu x dan sumbu y.

Ditinjau dari bahan dan indeks bias substrat dan kovernya, pandu gelombang papak dibedakan atas struktur semetri yaitu bila lapisan substrat dan konvernya terbuat dari bahan dan indeks bias yang sama, dan struktur asimetris bila terbuat dari bahan dan indeks bias yang berbeda. Sebaliknya bila ditinjau dari keseragaman indeks bias lapisan filmnya, maka pandu gelombang papak dibedakan atas step indek bila indeks bias lapisan filmnya seragam, dan graded indeks. Bila besar indeks bias lapisan filmnya terdistribusi sepanjang tebal lapisan filmnya.

Pandu gelombang optik dapat dibedakan pula berdasarkan ketergantungan indeksa bias penyusun lapisan filmnya terhadap intensitas gelombang optik masukan, yaitu pandu gelombang optik linier dan tak linier. Pada pandu gelombang optik linier lapisan film sebagai medium propagansinya terbuat dari bahan yang indeks biasnya tak gayut terhadap intensitas gelombang optik. Sebaliknya pada pandu gelombang optik tak linier medium propagansinya terbuat dari bahan yang indeks biasnya gayut terhadap intensitas gelombang optik.

 

2.2 Sinar Optik dan Moda Terpandu

Konsep dasar moda terpandu biasanya dijelaskan dengan menggunakan model sinar optik. Moda tersebut dapat digunakan karena proses pemanduan cahaya dalam pandu gelombang erat kaitannya dengan fenomena-fenomena sinar optik pada bidang batas antara dua medium. Gelombang optik yang terpandu dalam pandu gelombang dalam bentuk moda gelombang optik adalah gelombang optik yang mengalami pantulan internal total pada kedua bidang batas film-kover dan film-substrat.

 

Gambar 2.1 ilustrasi zig-zag sinar moda terpandu sepanjang pandu gelombang optik

Berdasarkan gambar 2.1 maka menurut hukum snellius, pantulan internal hanya terjadi bila sudut datang gelombang (θ) harus lebih besar dari sudut kritis (θc) pada kedua bidang batas, dengan besar sudut kritis pada kedua bidang batas film-kover dan film-substrat berturut-turut didefinisikan sebagai

θk = sin-1 (nk/ nf)           ……………………………….. (2.1)

θs = sin-1 (nS/ nf)           ……………………………….. (2.2)

Pada pandu gelombang papak lapisan kover dan substratnya dibuat dari bahan sedemikian hingga indeks bias substrat (nS ) lebih besar dari indeks bias kover (nk), sehingga θs > θk. Maka secara umum moda gelombang optik akan terpandu bila rentang sudut datang (θ) berada pada linterval θs < θ < 900. Setiap moda gelombang optik diwakili oleh satu sinar terpandu, dan setiap sinar terpandu memiliki konstanta propagasi efektif (konstanta propagsi dalam arah perambatan dalam hal ini sepanjang sumbu z ) yang bersarnya didefinisikan sebagai

Β = kz = knfsin θ = kN               ……………………………….. (2.3)

Dengan N = nfsinθ menyatakan indeks bias efektif setiap moda gelombang optik yang harganya berada dalam rentang ns < N < nf

2.3 Pandu Gelombang Multimode

Pandu gelombang multimode memandu lebih dari satu moda gelombang optik. Jumlah moda yang terpandu bergantung antara lain pada ketebalan (h), panjang gelombang optik tersalur (λo), serta kombinasi indeks bias film (nf), substrat (ns) dan kover (nc). Jika telah ditentukan indeks bias relatif antar layer, maka dapat ditentukan jumlah moda yang bervariasi. Pada setiap moda mempunyai tetapan propagasi (βv) yang spesifik, dengan v = 0, 1, 2, 3…(m-1) dengan m adalah jumlah moda terpandu.

 

Gambar 2.2 Pandu gelombang multimode step indeks.

Nilai konstanta propagasi βv dengan menggunakan formulasi :

………………………………………….(2.4)

 

dengan k0 adalah bilangan gelombang yang didefinisikan sebagai k0 = 2π/λ0 sedangkan heff adalah lebar yang dirasakan setiap moda terpandu dan didefinisikan sebagai

Untuk Modus TE ……………………….(2.5)

 

 

Untuk Modus TM ………………………(2.6)

 

Pemecahan daya masukan optik atas beberapa keluaran daya terjadi pada panjng layangan tertentu. Panjang layangan (beat Length)( Lπ) dari dua moda terendah adalah :

 

………………………………(2.7)

 

sehingga tetapan propagasi dari moda-moda dalam devais MMI dapat dituliskan menjadi

 

……………………………………(2.8)

 

Akibatnya, selisih tetapan propagasi moda pertama dengan moda ke-v dapat dituliskan sebagai

 

 

………………………………(2.9)

Optik terpadu adalah teknologi pembuatan peralatan dan jaringan optik pada suatu substrat, seperti mengkonstruksi sirkuit elektronika terpadu. Optik terpadu menawarkan kemampuan untuk mengkombinasikan komponen elektronik dan optik pada sebuah substrat sehingga terbentuk subsistem atau sistem yang fungsional. Teknologi ini mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya kompak, berukuran kecil, dan harganya relatif murah. Pemancar optik, penerima, dan pengulang dapat dirancang pada satu substrat untuk hubungan interkoneksi jarak jauh menggunakan serat optik.

Pada jaringan optik terpadu, cahaya ditransfer ke komponen-komponen oleh pemandu-gelombang plat dielektrik. Pemandu-gelombang plat mempunyai kesamaan dengan serat optik, sehingga proses perambatan gelombang dalam plat ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menganalisa perambatan gelombang pada serat.

Pada gambar di bawah diperlihatkan pemandu-gelombang plat dielektrik. Gelombang merambat terutama dalam lapisan tengah yang mempunyai indeks bias n1. Lapisan ini sangat tipis (kurang dari satu mikrometer), dan biasa disebut film. Film ini diapit oleh lapisan atas dan lapisan bawah yang mempunyai indeks bias n2 dan n3. Cahaya terjebak dalam film oleh pemantulan internal total. Seperti telah dibahas pada bab terdahulu, hal ini dapat terjadi jika n2 dan n3 lebih kecil dari n1.

 

Gambar 2.3 Pemandu-gelombang plat dielektrik dengan n1 > n2 dan n1> n3.

 

2.4 Serat Optik

Serat yang digunakan berbentuk silinder seperti kawat pada umumnya, terdiri dari dua bagian penting yaitu bagian teras dan kulit (cladding). Penampang lintangnya secara lengkap dapat kita lihat pada gambar 2.4. Teras terbuat dari bahan silika (SiO2), biasanya diberi doping dengan GeO2 (germanium dioksida) atau P2O5 (fosfor pentoksida) untuk menaikkan indeks biasnya.

 

Gambar 2.4 penampang serat optik

Sedangkan kulit juga terbuat dari silika tanpa atau dengan sedikit doping, indeks bias kulit sedikit lebih rendah daripada rendah daripada indeks bias teras. Komposisi teras kulit yang demikian diperlukan agar sinar yang masuk ke dalam dapat terpantul-pantul secara sempurna sepanjang perjalanannya. Pantulan sempurna hanya dapat terjadi jika sinar datang dari medium yang lebih rapat ke medium yang kurang rapat dan sinar datang dengan sudut datang yang melebihi sudut kritiknya, peristiwa fisis semacam ini sering kita lihat di jalanan pada waktu terik matahari sebagai asap (mirage).

Sudut-sudut yang dibuat oleh sinar meridional, yaitu sinar yang memotong sumbu serat dapat dilihat pada gambar 2.5. Sudut datang θ d harus lebih besar daripada sudut kritik θ c.Dari hukum Snellius tentang pembiasan sinar, sudut kritik di perbatasan antara teras dan kulit :

……………………………….. (2.10)

nk dan nt masing-masing adalah indeks bias kulit dan teras serat optik. Jika n adalah indeks bias medium asal sinar, maka dengan bantuan sedikit geometri dapat dibuktikan bahwa

 

 

 

Gambar 2.5 sudut masuk dan sudut datang sinar meridional
……………………………….. (2.11)

:

Sudut masuk θ i adalah sudut masuk sinar ke dalam serat optik. Besaran yang berkaitan dengan sudut masuk maksimum adalah tingkap numerik (numerical aperture) yang didefinisikan sebagai :

……………………………….. (2.12)

Untuk sinar-sinar lintir (skew rays), yaitu sinar yang tidak pernah memotong sumbu serat, tingkap numeriknya perlu dimodifikasi sedikit akibat bidang datangnya yang membentuk sudut terhadap bidang diametral serat optik :

NA S = NA/cos           ……………………………….. (2.13)

Fungsi lain dari kulit yang tak kalah pentingnya adalah :

  1. melindungi teras dari kotoran-kotoran
  2. menaikkan ketahanan serat terhadap usikan-usikan mekanis
  3. mengurangi kerugian akibat hamburan oleh diskontinuitas dielektrik di permukaan teras

Pada peristiwa pantulan sempurna oleh kulit, sebetulnya masih disertai juga oleh rembesan sinar ke dalam kulit. Hal ini dapat menyebabkan kerugian transmisi dan menyebabkan sinar yang tak sejajar sumbu serat mencapai ujung seberang lebih dulu, sinar memiliki laju rambat yang lebih besar di dalam kulit daripada di dalam teras.

Sebuah sinar di dalam serat terdiri dari dua komponen, yaitu komponen sejajar sumbu dan komponen tegak lurus sumbu. Komponen yang tegak lurus sumbu berarti tegak lurus pula dengan perbatasan teras kulit. Ternyata hanya sinar yang komponen tegak lurusnya membentuk gelombang diam (stasioner) yang dapat menjalar sepanjang serat, kibatnya sinar yang merambat dalam serat cacahnya terbatas (disebut mode). Di dalam serat yang diameter terasnya kecil (1-2mm) hanya satu mode saja yang dapat merambat, serat ini disebut serat bermode tunggal. Di dalam serat semacam ini pantulan sempurna tidak akan terjadi jika amplitudo sinar melebihi jari-jari teras. Ukuran serat mode tunggal yang kecil itu tidak menguntungkan, karena terdapat kesulitan mengumpan sinar masuk ke dalamnya. Ukurannya dapat diperbesar dengan cara membuat indeks bias terasnya. Serat bermode tunggal biasanya juga dikaitkan dengan panjang gelombang sinar yang lewat, serat ini menggunakan diode laser sebagai pengumpan sinarnya, kita tahu bahwa laser memiliki panjang gelombang tunggal sehingga cocok dengan nama mode tunggal. Penggunaan laser di sini mengakibatkan serat mampu membawa data dengan laju yang amat cepat dan dengan distorsi yang minimal.

Serat yang mengijinkan beberapa mode merambat di dalamnya disebut serat bermode banyak (multimode). Jika indeks bias teras dan kulit berbeda drastis, disebut indeks-langkah (step-index), setiap mode yang lewat memiliki jarak tempuh yang berbedabeda. Akibatnya mereka tiba di ujung seberang pada seberang pada saat yang tidak sama pula, dikatakan terjadi pelebaran pulsa yang akan menurunkan laju transmisi datanya. Peristiwa dispersi antar mode ini dapat dikurangi dengan cara membuat indeks bias yang turun sedikit demi sedikit dari teras sampai ke kulit, serat yang demikian ini disebut serat dengan graded-index. Gambar 2.6 di atas menunjukkan serat multimode baik yang indeks-langkah maupun yang graded-index.

Gambar 2.6 serat multimode dengan step-index (kiri) dan graded-index (kanan)

2.5 Syarat Moda

Gelombang atau cahaya yang datang dengan sudut datang antara sudut kritis dan 90° terjebak dalam film oleh pemantulan internal total, tetapi tidak semua gelombang ini akan dapat merambat sepanjang struktur. Gelombang yang dapat merambat dalam pemandu tergantung pada mode pemandu itu sendiri. Pola interferensi yang stabil terbentuk jika pergeseran fase total pada satu siklus adalah kelipatan bilangan bulat dari 2π, yaitu :

Δφ = m . 2 π    ……………………………….. (2.14)

dengan m adalah bilangan bulat. Pergeseran fase terjadi akibat perjalanan sepanjang struktur pemandu dan karena pantulan. Pergeseran fase dapat dihitung dengan cara membuat λ tetap dan mengubah-ubah arah θ. Dengan demikian persamaan 2.14 akan terpenuhi untuk beberapa arah θ yang berbeda; inilah yang disebut mode pemandu-gelombang. Gelombang atau cahaya yang mempunyai arah θ tidak memenuhi persamaan 2.14, akan dengan cepat meluruh akibat interferensi merusak (destructive interference).

 

2.6 LASER HELIUM – NEON

Masalah utama dalam laser gas adalah bagaimana atom dapat dirangsang secara terpilih ke tingkat tertentu dalam jumlah yang cukup untuk mencapai pembalikan populasi. Mekanisme utama untuk rangsangan yang digunakan dalam laser gas adalah dengan kejutan elektron. Misalkan atom – atom jenis A dirangsang dalam tabung pengosongan muatan dengan cara ini ke keadaan metastabil. Jika tabung pengosongan muatan juga berisi atom jenis lain B, yang keadaan rangsangannya sangat dekat dengan keadaan metastabil A, maka dapat terjadi perpindahan energi resonansi dan atom B dinaikkan dari keadaan terangsang. Jika laju perpindahan rangsangan lebih besar daripada laju peluruhan radiasi dari keadaan terangsang, populasi dari keadaan terangsan atom B akan naik dengan mantap dan keadaan demikian akan banyak populasinya, sehingga pembalikan terjadi antara keadaan tersebut dengan keadaan lain. Proses ini telah dilakukan oleh Javan dan kawan – kawan dalam laser He-Ne, yang merupakan laser gas pertama yang bekerja secara kontinyu. Skema tingkat energi dari He dan Ne ditunjukkan dalam gambar 2.7.

Gambar 2.7 Skema tingkat energi He dan Ne.

Atom – atom He ternyata lebih siap terangsang oleh kejutan elektron daripada atom – atom Ne. Atom – atom dapat dirangsang baik dengan sumber daya dc atau ac. Tingkat – tingkat 21S dan 23S dari He mempunyai masa hidup yang relatif panjang, yakni merupakan tingkat – tingkat metastabil. Namu, aksi laser terjadi tingkat – tingkat energi dari Ne. Peranan atom He adalah membantu proses pemompaan. Tingkat – tingkat metastabil 21S pada ~ 20.5 eV dan 23S ~ 19.81 eV dari Helium, berimpit energinya dengan satu set tingkat terangsan berturut – turut 3s dan 2s dari Neon. Jika suatu atom Helium dalam keadaan metastabil membentur atom neon dalam keadaan dasar, maka terjadi pertukaran energi, dan atom neon naik ke tingkat 2s atau 3s dan atom Helium turun kembali ke keadaan dasar. Hal ini memungkinkan mekanisme populasi terpilih yang secara terus menerus memberikan atom – atom Ne ke tingkat – tingkat 2s dan 3s yang menaikkan populasinya. Kemungkinan transisi yang diperlukan oleh aturan seleksi adalah ke keadaan dasar dan keadaan-keadaan 2p. Waktu peluruhan (decay) dari tingkat s (T., = 100 ndetik) setingkat lebih lama dibandingkan dengan waktu peluruhan dari keadaan p (,r, = 10 ndetik). Pembalikan populasi karenanya dapat dilakukan antara keadaan s dan p, yang memenuhi kondisi keda sebagai sistem laser empat-tingkat.

Gambar 2.7 menunjukkan perpindahan di mana osilasi laser diharapkan dapat terjadi. Dari berbagai perpindahan tingkat komponen dari grup 3s dan 2s ke tingkat-tingkat dari grup 3p dan 2p, perpindahan-perpindahan berikut yang penting :

a)

b)

c)

Agar laser bekerja dengan efektif, syarat-syarat tertentu dipenuhi menjadi kendala dari beberapa harga parameter operasional. Misalnya orang harus mengetahui, bahwa (i) tingkat 2p tidak terangsang oleh benturan tidak-elas­tis antara elektron atau dalam tingkat metastabil 1s; dan (ii) atom-atom da­lam tingkat 2s tidak turun kembali ke keadaan dasar. Kedua proses ini di­gambarkan sebagai berikut:

e + Ne (1s) – Ne (2p) + e         ……………………………….. (2.15)

dan

e + Ne (2s) – Ne + e    ……………………………….. (2.16)

menjadi penting pada rapat arus tinggi dan menaikkan pembalikan populasi antara tingkat-tingkat 2s dan 2p. Orang tidak dapat mengabaikan kemung­kinan terjadinya proses-proses ini, karena tingkat-tingkat 1s tidak mungkin berpindahan ke bawah dan juga dapat mengalami perangkap radiasi pada transisi 2p -1s. Akibatnya, mengarah ke terbentuknya populasi yang tinggi pada tingkat 2p. Karena itu, rapat arus harus diatur untuk mendapatkan harga optimum. Populasi dari tingkat Is juga harus dijaga pada harga mini­mumnya dan hal ini memerlukan pengaturan tekanan total dan parsial dari campuran gas dan juga ukuran dari tabung. Tekanan Ne biasanya dijaga jauh lebih rendah daripada tekanan He (PNe ~ 0,1 Torr, PHe ~1 Torr) dan diameter tabung kecil (~2 mm) sehingga atom-atom Is dapat mem­bentur dinding dan menurunkan populasi tingkat. Cukup banyak kejadian untuk menunjukkan kejadian seperti di atas dapat mempertinggi penampilan laser. Jadi, jika tabung lucutan-muatan (discharge) dimatikan, tingkat­tingkat 2s ternyata akan meluruh (decay) dengan perubahan waktu yang serupa dengan keadaan-keadaan 2’S dan penguatan ternyata lebih besar se-lama pasca-pembendaran daripada saat adanya pulsa arus. Hal ini jelas di­sebabkan selama pasca-bendaran tidak ada elektron yang tersedia untuk rangsangan atom-atom 1s ke tingkat-tingkat 2p.


BAB III

METODOLOGI

3.1 Peralatan dan Bahan

Peralatan dan bahan yang digunakan dalam percobaan berikut adalah:

  1. Laser He-Ne
  2. Sumber tegangan
  3. Serat Optik
  4. Kamera Digital
  5. Layar
  6. Software Win View

 

3.2 Skema Alat Percobaan

Gambar 3.1 Skema Alat Percobaan

3.2 Prosedur Percobaan

Prosedur kerja dari percobaan pemanduan gelombang ini adalah :

  1. Peralatan disusun seperti pada gambar 3.1, dengan posisi layar (s) tertentu.
  2. Berkas cahaya pada layar dipotret dan disimpan dalam file digital.
  3. Layar diubah posisinya sebanyak tiga kali dan masing-masing pola berkas cahaya dipotret.

 

BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil Pengamatan

Berdasarkan pengamatan dan percobaan diperoleh data distribusi intensitas dari program software win view sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.1 Distribusi intensitas pada baris ke 600

 

 

 

 

 

Gambar 4.2 Distribusi intensitas pada baris ke 500

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.3 Distribusi intensitas pada baris ke 400

 

4.2 Perhitungan

Tabel 4.1 perhitungan Numerical Aperture

d(cm) s(cm) d/s= tan Ѳ Ѳ NA = sin Ѳ
2 4 0.5 26,56 0,447
4 8 0.5 26,56 0,447
4 6 0.666666667 33,69 0,554
Rata-rata = 0,482

4.3 Pembahasan

Praktikum pandu gelombang serat optik ini mempunyai tujuan untuk mengamati dan menggambarkan pola medan dari serat optic dimana pada praktikum ini menggunakan laser He-Ne, sumber tegangan, serat optik, kamera digital, layar, dan software Win View. Praktikum ini menggunakan laser He-Ne karena merupakan laser gas. Penggunaan serat optik pada pecobaan ini untuk mengetahui ada pola medan karena pada serat optik ini terjadi pandu gelombang. Pandu gelombang optik berfungsi untuk menyalurkan energi gelombang optik dalam bentuk buntelan energi atau yang sering disebut dengan moda energi. Struktur geometri pandu gelombang optik dengan indeks bias lapisan kover, film dan substrat berturut-turut adalah n1, n2, dan n3. gelombang optik yang terpandu dalam lapisan film merupakan gelombang optik yang harus mengalami pemantulan internal total setelah menumbuk bidang batas film-substrat dan film-kover. Program yang digunakan pada percobaan ini yaitu Win Veiw karena data yang dipadat yaitu gambar digital karena mengguanakan kamera digital, setelah gambar itu diolah sehingga menghasilkan grafik yang membaritahukan kepada kita distribusi intensitas pada kolom ke 600 pada praktikum pertama, 500 pada praktikum ke dua, dan 400 praktikum ke tiga.

Cara kerja pada praktikum ini yaitu mengambil cahaya yang paling terang dengan jarak serat optik kelayar (s) dan diameter bayangan (d) yang berbeda. Praktikum ini menggunakan tiga data yang berbeda yaitu pertama jarak serat optik kelayar (s) adalah 4 pada diameter bayangan (d) adalah 2 jadi nilai numerical aperture 0,447, kedua jarak serat optik kelayar (s) adalah 8 pada diameter bayangan (d) adalah 4 jadi nilai numerical aperture 0,447, dan ketiga jarak serat optik kelayar (s) adalah 6 pada diameter bayangan (d) adalah 4 jadi nilai numerical aperture 0,554 sehingga rata-rata dari nilai numerical aperturenya adalah 0,482.

Gambar yang didapat dari hasil praktikum pertama yang telah diolah dengan program Win View mengasilkan grafik yang menjelaskan distribusi intensitas pada kolom ke 600. Grafik distribusi intensitas pada kolom ini menjelaskan bahawa intensitas cahaya paling besar yaitu diatara kolom 500 – 600 tapi pada kolom 600-700 terjadi penurunan dan ada penurunan yang drastis. Gambar yang didapat dari hasil praktikum pertama yang telah diolah dengan program Win View mengasilkan grafik yang menjelaskan distribusi intensitas pada kolom ke 500. Grafik distribusi intensitas pada kolom ini menjelaskan bahawa intensitas cahaya paling besar yaitu diatara kolom 500 – 600 tapi pada kolom 400-500 terjadi penurunan dan ada penurunan yang drastis. Gambar yang didapat dari hasil praktikum pertama yang telah diolah dengan program Win View mengasilkan grafik yang menjelaskan distribusi intensitas pada kolom ke 400. Grafik distribusi intensitas pada kolom ini menjelaskan bahawa intensitas cahaya paling besar yaitu diatara kolom 400 – 500 tapi pada kolom 500-600 terjadi penurunan dan ada penurunan yang drastis. Berdasarkan hasil data tersebut didapatkan pada praktikum ketiga bayangan yang didapatkan masih kurang fokus dimana disekitar bayangan masih terdapat bayangan yang berwarna merah tidak seperti pada praktikum yang pertama dan ke dua, itulah yang menyebabkan nilai numerical aperture pada praktikum ketiga 0,554.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat pada praktikum pandu gelombang serat optik ini adalah:

  1. Nilai rata-rata numerical aperture 0,482.
  2. Distribusi intensitas pada grafik pertama yang terbesar pada kolom 500-600.
  3. Distribusi intensitas pada grafik kedua yang terbesar pada kolom 500-600.
  4. Distribusi intensitas pada grafik ketiga yang terbesar pada kolom 400-500.
  5. Gambar yang dihasilkan pada gambar ketiga kurang fokus sehingga terdapat hamburan jadi nilai numerical aperturenya 0,554.

DAFTAR PUSTAKA

Rubiyanto, Agus, dkk., 2006, Analisis Directional Coupler Sebagai Pembagi Daya untuk Mode TE, Jurnal Fisika dan Aplikasinya Volume 2, Nomor 1, Januari, ITS, Surabaya

 

Rohedi,A. Y., dkk, Juli 2005, Formulasi Analitis Tetapan Propagasi Efektif Modus TE untuk Directional coupler Linier Diturunkan dengan Metode Matrik Karakteristik Lapis Jamak, Jurnal Fisika dan Aplikasinya Volume 1, Nomor 2, ITS, Surabaya.

 

Rubiyanto A., Rohedi A.Y. ,2003, Buku Ajar Optika Terpadu, Proyek Due-like JurusanFisika FMIPA-ITS.

 

Sudarsono, Gatut Yudhoyono, Yono Hadi Pramono, and Ali Yunus Rohedi. 2009. Fabrikasi dan Karakterisasi Devais MMI Sebagai Pembagi Daya Modus TE dan Modus TM, Tesis Pascasarjana Jurusan Fisika FMIPA ITS, Surabaya.

 

Rinawati, Gatut Yudhoyono, Yono Hadi Pramono, and Ali Yunus Rohedi.2009. Fabrikasi dan Karakterisasi Directional Coupler Struktur Slab Berbasis Polimer Polystyrene dan Polymethyl Methacrylate (PMMA), Tesis Pascasarjana Jurusan Fisika FMIPA ITS, Surabaya.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: