Intregasi Pendidikan Berbasis Sains dan Agama

BAB I

PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Lembaga Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta memiliki akhlaq yang mulia. Namun,pada kenyataannya nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya terwujud. Tingkat prestasi dibidang pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah disbanding dengan Negara-negara di dunia. Kenakalan yang dilakukan pelajar masih sering mewarnai kolom pemberitaan diberbagai media. Oleh sebab  itu dibutuhkan sistem pendidikan berbasis agama dan Iptek sehingga mampu mencetak generasi yang beraklaq mulia dan benar-benar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berdasarkan perspektif historis, Indonesia merupakan sebuah negeri muslim yang unik, letaknya sangat jauh dari pusat lahirnya Islam (Mekkah). Meskipun Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke tujuh, dunia internasional mengakui bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan Pendidikan Agama Islam di Indonesia.

Lembaga Pendidikan Agama Islam pertama didirikan di Indonesia adalah dalam bentuk pesantren (Sarijo, 1980; Dhofier, 1982). Dengan karaktemya yang khas “religius oriented“, pesantren telah mampu meletakkan dasar-dasar pendidikan keagamaan yang kuat. Para santri tidak hanya dibekali pemahaman tentang ajaran Islam tetapi juga kemampuan untuk menyebarkan dan mempertahankan Islam.

Masuknya model pendidikan sekolah membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi umat Islam saat itu, yang mengarah pada lahirnya dikotomi ilmu agama (Islam) dan ilmu sekuler (ilmu umum). Dualisme model pendidikan yang konfrontatif tersebut telah mengilhami munculnya gerakan reformasi dalam pendidikan pada awal abad dua puluh. Gerakan reformasi tersebut bertujuan mengakomodasi sistem pendidikan sekolah ke dalam lingkungan pesantren (Toha dan Mu’thi, 1998). Corak model pendidikan ini dengan cepat menyebar tidak hanya di pelosok pulau Jawa tetapi juga di luar pulau Jawa. Dari situlah embrio madrasah lahir.

Tuntutan pengembangan madrasah akhir-akhir ini dirasa cukup tinggi. Pengembangan madrasah di pesantren yang pada umumnya berlokasi di luar kota dirasa tidak cukup memenuhi tuntutan masyarakat. Oleh karena itu banyak model pendidikan madrasah bermunculan di tengah kota, baik di kota kecil maupun di kota-kota metropolitan. Meskipun banyak madrasah yang berkembang di luar lingkungan pesantren, budaya agamanya, moral dan etika agamanya tetap menjadi ciri khas sebuah lembaga pendidikan Islam. Etika pergaulan, perilaku dan performance pakaian para santrinya menjadi daya tarik tersendiri, yang menjanjikan kebahagiaan hidup dunia akhirat sebagaimana tujuan pendidikan Islam.

Realitas menunjukkan bahwa praktek pendidikan nasional dengan kurikulum yang dibuat dan disusun sedemikian rupa bahkan telah disempurnakan berkali-kali, tidak hanya gagal menampilkan sosok manusia Indonesia dengan kepribadian utuh, bahkan membayangkan realisasinya saja terasa sulit. pendidikan umum (non madrasah) yang menjadi anak emas pemerintah, di bawah naungan Depdiknas, telah gagal menunjukkan kemuliaan jati dirinya selama lebih dari tiga dekade. Misi pendidikan yang ingin melahirkan manusia-manusia cerdas yang menguasai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kekuatan iman dan taqwa plus budi pekerti luhur, masih tetap berada pada tataran ideal yang tertulis dalam susunan cita-cita (perundang-undangan). Tampaknya hal ini merupakan salah satu indikator dimana pemerintah kemudian mengakui keberadaan  madrasah sebagian dari sistem pendidikan nasional (Raharjo, http://www.ditpertais.net).

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar madrasah kurang berkompeten dalam bidang sains dan teknologi dibandingkan dengan sekolah umum. Madrasah dalam pandangan masyarakat luas hanya sebagai lembaga pendidikan agama. Ketika orang mengharapkan anak-anaknya memiliki kemampuan yang tinggi, mereka memilih memasukkan anaknya ke sekolah umum. Fasilitas pendidikan yang terdapat di madrasah dan sekolah umum pun berbeda. Madrasah memiliki sarana penunjang pendidikan yang kurang memadai, terutama yang terdapat di daerah pelosok. Rata-rata kompetensi lulusan madrasah lebih rendah dibanding dengan lulusan sekolah-sekolah umum. Materi yang disampaikan di madrasah berbeda dengan sekolah umum. Di madrasah materi keagamaan lebih banyak. Meskipun demikian materi yang diujikan secara nasional sama.

1.2 Gagasan

Kesalahan dikotomi pendidikan antara pendidikan agama-madrasah dan pendidikan umum menyebabkan munculnya kelebihan dan kekurangan dari masing-masing sistem. Madrasah yang lebih menonjolkan pengajaran pada sisi agama ternyata masih memiliki kekurangan dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Lulusan dari madrasah kurang biasa menguasai kemampuan sains dan teknologi secara umum. Sedangkan pada sistem pendidikan umum-nasional yang masih mewarisi sistem pendidikan sekular-materialistik yang nampak jelas dengan  menurunya  nilai-nilai transendental pada semua proses pendidikan seperti moral dan kesopanan. Maka gagasan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah mengkombinasikan antara sistem pendidikan agama dan umum menjadi sistem pendidikan yang berbasis Iptek-agama.


1.3 Permasalahan

Permasalahan yang dikaji dalam penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimana mengatasi permasalahan sistem pendidikan di sekolah umum dan madrasah.
  2. Bagaimana mengkombinasikan sistem pendidikan di madrasah dan sekolah umum.

1.4. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut.

  1. Memberikan solusi alternatif pada pendidikan madrasah dan sekolah umum dengan sistem pendidikan berbasis Iptek-Agama
  2. Memberikan gagasan metode pengkombinasian sistem pendidikan madrasah dan sekolah umum.

Adapun manfaat yang ingin dicapai dari penulisan dalam penulisan karya tulis ini adalah menyampaikan gagasan sistem pendidikan yang baru yaitu sistem pendidikan berbasis Iptek-Agama  kepada instansi pendidikan baik madrasah maupun sekolah umum-nasional. Apabila sistem tersebut dilakukan dimadrasah maka akan akan menjadikan madrasah tersebut menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan teknologi yang tinggi dan agama yang memadai. Bagi sekolah umum, nilai-nilai transendental yang selama ini sulit diwujudkan seperti moral dan kesopanan akan menjadi perihal yang mudah untuk diwujudkan.


BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1 Pendidikan Madrasah

Di tengah kuatnya arus modernisasi, dunia pendidikan Islam di Indonesia mengalami pasang surut. Dalam dinamika pesantren tradisional, tercatat degradasi mutu dan kualitas pendidikan akibat munculnya kecenderungan untuk lekas mengalihkan tradisi kepesantrenan menuju pemodernan dengan membuka sekolah formal agama maupun umum.

2.1.1 Problem Madrasah

Diakui bahwa model pendidikan madrasah di dalam perundang-undangan negara, memunculkan dualisme sistem pendidikan di Indonesia. Dualisme pendidikan di Indonesia telah menjadi dilema yang belum dapat diselesaikan hingga sekarang. Dualisme ini tidak hanya berkenaan dengan sistem pengajarannya tetapi juga menjurus pada keilmuannya. Pola pikir yang sempit cenderung membuka gap antara ilmu-ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu umum. Seakan-akan muncul ilmu Islam dan ilmu bukan Islam (kafir). Padahal dikhotomi keilmuan ini justru menjadi garapan bagi para pakar pendidikan Islam untuk berusaha menyatukan keduanya.

Dualisme pendidikan Islam juga muncul dalam bidang manajerialnya, khususnya di lembaga swasta. Lembaga swasta umumnya memiliki dua top manager yaitu kepala madrasah dan ketua yayasan (atau pengurus). Meskipun telah ada garis kewenangan yang memisahkan kedua top manager tersebut, yakni kepala madrasah memegang kendali akademik sedangkan ketua yayasan (pengurus) membidangi penyediaan sarana dan prasarana, sering di dalam praktik terjadi overlapping. Masalah ini biasanya lebih buruk jika di antara pengurus yayasan tersebut ada yang menjadi staf pengajar. Di samping ada kesan memata-matai kepemimpinan kepala madrasah, juga ketika staf pengajar tersebut melakukan tindakan indisipliner (sering datang terlambat), kepala madrasah merasa tidak berdaya menegurnya.

Praktek manajemen di madrasah sering menunjukkan model manajemen tradisional, yakni model manajemen paternalistik atau feodalistik. Dominasi senioritas semacam ini terkadang mengganggude perkembangan dan peningkatan kualitas pendidikan. Munculnya kreativitas inovatif dari kalangan muda terkadang dipahami sebagai sikap yang tidak menghargai senior. Kondisi yang demikian ini mengarah pada ujung ekstrem negatif, hingga muncul kesan bahwa meluruskan langkah atau mengoreksi kekeliruan langkah senior dianggap tabiat su’ul adab.

Dualisme pengelolaan pendidikan juga terjadi pada pembinaan yang dilakukan oleh departemen yaitu Departemen Pendidikan  Nasional (Depdiknas) dan Departemen Agama (Depag). Pembinaan madrasah di bawah naungan Depag berhadapan dengan Sekolah umum di bawah pembinaan Depdiknas sering menimbulkan kecemburuan sejak di tingkat (SD dan MI) hingga perguruan tinggi. Dari alokasi perhatian, pembinaan manajerial, bantuan buku dan media pembelajaran, serta penempatan guru, hingga pemberian beasiswa pendidikan lanjut sering tidak sama antara yang diterima oleh sekolah umum (Depdiknas) dengan madrasah (Depag).

Untuk mempercepat peningkatan mutu madrasah secara efektif, diperlukan pemahaman terhadap hakekat dan problematika madrasah. Madrasah sebenarnya merupakan model lembaga pendidikan yang ideal karena menawarkan keseimbangan hidup: iman-taqwa (imtaq) dan ilmu pengetahuan-teknologi (iptek). Disamping itu, sebagai lembaga pendidikan berbasis agama dan memiliki akar budaya yang kokoh di masyarakat, madrasah memiliki basis sosial dan daya tahan yang luar biasa. Atas dasar itu apabila madrasah mendapatkan sentuhan menejemen dan kepemimpinan yang baik niscaya akan dengan mudah menjadi madrasah yang diminati masyarakat. Seandainya mutu madrasah itu sejajar saja dengan sekolah, niscaya akan dipilih masyarakat, apalagi kalau lebih baik. Abdul jalil, mantan kepala madrasah berprestasi (MIN, MTsN dan MAN) Jalan Bandung Malang pernah mengatakan kepada penulis, bahwa memajukan madrasah sebenarnya lebih mudah dibanding dengan sekolah. Hal ini disebabkan semangat keagamaan komunitas madrasah dan dukungan wali murid, dan pemerhati pendidikan madrasah (Raharjo M , http://www.ditpertais.net).

2.1.2 Madrasah di Era Modern

Persepsi masyarakat terhadap madrasah di era modern belakangan semakin menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang unik. Di saat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, di saat filsafat hidup manusia modern mengalami krisis keagamaan (Haedar Nashir, 1999) dan di saat perdagangan bebas dunia makin mendekati pintu gerbangnya, keberadaan madrasah tampak makin dibutuhkan orang.

Terlepas dari berbagai problema yang dihadapi, baik yang berasal dari dalam sistem seperti masalah manajemen, kualitas input dan kondisi sarana prasarananya, maupun dari luar sistem seperti persyaratan akreditasi yang kaku dan aturan-aturan lain yang menimbulkan kesan madrasah sebagai ‘sapi perah’, madrasah yang memiliki karakteristik khas yang tidak dimiliki oleh model pendidikan lainnya itu menjadi salah satu tumpuan harapan bagi manusia modern untuk mengatasi keringnya hati dari nuansa keagamaan dan menghindarkan diri dari fenomena demoralisasi dan dehumanisasi yang semakin merajalela seiring dengan kemajuan peradaban teknologi dan materi. Sebagai jembatan antara model pendidikan pesantren dan model pendidikan sekolah, madrasah menjadi sangat fleksibel diakomodasikan dalam berbagai lingkungan. Di lingkungan pesantren, madrasah bukanlah barang yang asing, karena memang lahirnya madrasah merupakan inovasi model pendidikan pesantren. Dengan kurikulum yang disusun rapi, para santri lebih mudah mengetahui sampai di mana tingkat penguasaan materi yang dipelajari. Dengan metode pengajaran modern yang disertai audio visual aids, kesan kumuh, jorok, ortodok, dan exclusive yang selama itu melekat pada pesantren sedikit demi sedikit terkikis. Masyarakat metropolit makin tidak malu mendatangi dan bahkan memasukkan putra-putrinya ke pesantren dengan model pendidikan madrasah. Baik mereka yang sekedar berniat menempatkan putra-putrinya pada lingkungan yang  baik (agamis) hingga yang benar-benar menguasai ilmu yang dikembangkan di pesantren tersebut, orang makin berebut untuk mendapatkan fasilitas di sana. Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, misalnya, penuh dengan putra putri konglomerat, sekali daftar tanpa mikir bayar, lengkap sudah fasilitas didapat. Ma’had Al-Zaitun yang berlokasi di daerah Haurgelis (sekitar 30 km dari pusat kota Indramayu), yang baru berdiri pada tahun 1994, juga telah menjadi incaran masyarakat modern kelas menengah ke atas, bahkan sebagian muridnya berasal dari negara-negara sahabat, seperti Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam. Dengan demikian, model pendidikan madrasah di lingkungan pesantren telah memiliki daya tawar yang cukup tinggi. (http:www.warnaislam.com)

2.2 Pendidikan Umum Nasional

Realitas menunjukkan bahwa praktek pendidikan nasional dengan kurikulum yang dibuat dan disusun sedemikian rupa bahkan telah disempurnakan berkali-kali, tidak hanya gagal menampilkan sosok manusia Indonesia dengan kepribadian utuh, bahkan membayangkan realisasinya saja terasa sulit. Pendidikan umum (non madrasah) yang menjadi anak emas pemerintah, di bawah naungan Depdiknas, telah gagal menunjukkan kemuliaan jati dirinya selama lebih dari tiga dekade. Misi pendidikan yang ingin melahirkan manusia-manusia cerdas yang menguasai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kekuatan iman dan taqwa plus budi pekerti luhur, masih tetap berada pada tataran ideal yang tertulis dalam susunan cita-cita (perundang-undangan). Tampaknya hal ini merupakan salah satu indikator dimana pemerintah kemudian mengakui keberadaan madrasah sebagian dari sistem pendidikan nasional.

Setelah kebobrokan moral dan mental merebak dan merajalela, orang baru bangun dan sadar bahwa pendidikan moral yang selama ini dilakukan lebih berorientasi pada pendidikan politik pembenaran terhadap segala pemaknaan yang lahir atas restu regim yang berkuasa. Upaya pembinaan moral yang bertujuan meningkatkan harkat dan martabat manusia sesuai dengan cita-cita nasional yang tertuang dalam perundang-undangan telah dikesampingkan dan menjadi jauh dari harapan.

Ketika dunia pendidikan kembali dituding telah gagal membentuk watak mulia pada anak didik, maka seperti biasa segera muncul saran untuk memperbaiki kurikulum atau muatan pada mata ajaran. Tetapi, bila sebelumnya yang dipersoalkan hanya sebatas masalah mata pelajaran atau paling jauh struktur kurikulum, banyak dari kalangan pemerhati dan pelaku pendidikan mempersoalkan hal yang lebih mendasar yakni tentang sistem pendidikan nasional yang ditudingnya masih mewarisi sistem pendidikan kolonial.

Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini memang adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Bila disebut bahwa sistem pendidikan nasional masih mewarisi sistem pendidikan kolonial, maka watak sekular-materialistik inilah yang paling utama, yang tampak jelas pada hilangnya nilai-nilai transendental pada semua proses pendidikan.

Sementara itu, masyarakat yang semestinya menjadi media pendidikan yang riil justru berperan sebaliknya akibat dari berkembangnya sistem nilai sekuler yang tampak dari penataan semua aspek kehidupan baik di bidang ekonomi, politik, termasuk tata pergaulan sehari-hari yang bebas dan tak acuh pada norma agama; berita-berita pada media massa yang cenderung mempropagandakan hal-hal negatif seperti pornografi dan kekerasan, serta langkanya keteladanan pada masyarakat. Kelemahan pada unsur keluarga dan masyarakat ini pada akhirnya lebih banyak menginjeksikan beragam pengaruh negatif pada anak didik. Maka yang terjadi kemudian adalah sinergi pengaruh negatif kepada pribadi anak didik (Yusron, Muhammad. http://dudungnet.net).

2.3 Mutu pendidikan Di Indonesia.

Terpuruknya mutu pendidikan Indonesia sangat berpengaruh terhadap kualitas SDM sebagai modal pembangunan di masa datang. Indeks pembangunan manusia (HDI) Indonesia masih berada diperingkat 112 di antara 175 negara. Posisi HDI Indonesia bahkan berada di bawah Vietnam.

Terpuruknya SDM Indonesia di posisi 112 dari 175 negara tak terlepas dari minimnya dana yang dialokasikan untuk peningkatan kualitas pendidikan. Kendati pemerintah telah menetapkan standart minimum dana pendidikan 20% dari APBN dan APBD diluar gaji guru. Namun, kenyataannya masih sangat sulit diwujudkan. Kualitas pendidikan di negara ini masih rendah bila dibandingkan dengan Negara lain. Indonesia hanya menempati urutan 102 dari 107 di dunia dan urutan 41 dari 47 negara di asia. Selain itu, output pendidikan yang dihasilkan  ternyata belum bisa menjawab semua persoalan yang dihadapi (Kilas Balik Pendidikan Nasional, 2006).

Ada apa dengan mutu pendidikan Indonesia? Jika berbicara soal mutu, sudah barang tentu mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja) atau upaya baik berupa barang atau jasa. Baik yang tangible maupun yang intangible. Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam proses pendidkan yang bermutu terlihat berbagai input seperti bahan ajar (koknitif,afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru). Sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Mutu dalam konteks hasil pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu. Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil tes kemampuan akademis (misalnya ujian nasional).

Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. Pertama, strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar pada asumsi bahwa bila mana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku dan alat belajar lainya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga pendidikan lainya. Maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah) akan dapat menghasilkan output atau keluaran yang bermutu sebagai mana yang dihasilkan. Kedua, pengelolaan pendidikan yang selama ini bersifat makro oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya banyak faktor yang di proyeksikan ditingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya ditingkat mikro (sekolah) atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan sering kali tidak dapat terpikir secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat (Kilas Balik Pendidikan Nasional, 2006).

Ada beberapa poin paradigma untuk mendasari mutu pendidikan Indonesia yaitu  pembahasan kurikulum, pembaharuan dalam proses pembelajaran, pembenahan manajemen pendidikan nasional, pembenahan pengelolaan guru dan mencari serta mengembangkan berbagai sumber alternatif pembiayaan pendidikan

(Kilas Balik Pendidikan Nasional, 2006).


BAB III

METODE PENULISAN

3.1.      Metode Penulisan

Karya tulis ini disusun secara deskriptif atau paparan. Karya tulis ini memaparkan kondisi pendidikan yang ada di Indonesia. Di Indonesia terdapat lembaga pendidikan yang berupa madrasah dan sekolah umum. Kedua lembaga pendidikan tersebut memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing lembaga tersebut dapat dijadikan alternatif sistem pendidikan yang bisa menghasilkan output siswa didik yang dapat menguasai iptek sekaligus mempunyai pemahaman dibidang agama.

3.2.      Metode Pengumpulan Data dan Informasi

Metode yang dilakukan dalam pengumpulan data dan informasi adalah studi pustaka dan penelusuran informasi melalui :

1. literatur, pustaka-pustaka referensi, pustaka penunjang.

2.  jurnal-jurnal penulisan tentang pendidikan.

3. informasi internet.

Di dalam proses pengumpulan data dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. perumusan latar belakang masalah.
  2. penentuan ruang lingkup permasalahan.
  3. penentuan tujuan dan manfaat.
  4. penelusuran dan pencarian data atau informasi.
  5. pengumpulan data dan informasi yang mendukung.
  6. pemilihan dan penyusunan data yang relevan.


3.3.      Metode Pengolahan Data dan Informasi

Dari studi pustaka yang dilakukan dalam penulisan Karya Ilmiah ini, digunakan dua metode mengolah data dan informasi yaitu :

  1. Metode deskriptif, yaitu proses analisis informasi dengan memberikan    prediksi gambaran mengenai masalah yang akan dibahas.
  2. Metode deduktif, yaitu proses analisis informasi dengan memberikan argumentasi melalui pola berpikir yang logis serta diuraikan dari pernyataan yang bersifat umum menuju suatu kebenaran yang bersifat khusus.

3.4. Metode Analisis

Dalam menganalisis data dan informasi yang telah terkumpul menggunakan metode deskriptif dan metode deduktif. Data dan informasi yang terkumpul dianalisis untuk menghasilkan penyelesaian permasalahan yang efektif.

3.5. Metode Pengambilan Simpulan dan Perumusan Saran

Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat diambil inti utama yang kemudian dibuat suatu simpulan. Simpulan diperkuat dengan saran dan harapan yang berkaitan dengan pemecahan masalah yang ada.


BAB IV

PEMBAHASAN

Keinginan terbesar sebuah lembaga pendidikan adalah menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan juga beraklaq mulia. Kedua hal tersebut dapat terwujud apabila dalam kurikulum yang disampaikan kepada siswa-siswa tidak mengesampingkan keduanya. Ilmu pengetahuan dan teknologi harus disampaikan dengan sebaik-baiknya. Begitu juga dengan ilmu agama, yang merupakan pelajaran yang mengarahkan siswa didik kepada etika yang sopan dan santun dalam kesehariannya.

Pada Sekolah umum, biasanya menempatkan pelajaran agama hanya satu kali dalam sepekan. Pelajaran yang mengarah pada penguasaan sains seperti matematika, fisika dan kimia memperoleh porsi lebih banyak.  Berbeda dengan madrasah yang memberikan kesempatan kepada siswanya untuk belajar agama lebih banyak. Meskipun demikian pelajaran umum juga tidak dikesampingkan. Dengan diterapkan kurikulum yang menyeimbangkan agama dan sains seperti di madrasah diharapkan mampu membentuk lulusan yang mampu menguasai iptek serta berbudi pekerti yang baik. Akan tetapi, masalah kenakalan pelajar masih terjadi dalam dua lembaga pendidikan tersebut. Masuknya kebudayaan barat memberi andil besar dalam perilaku pelajar. Apabila diamati dari pelajaran yang disampaikan, lulusan maupun siswa  madrasah seharusnya lebih menguasai permasalahan agama dari pada lulusan sekolah umum. Namun kenakalan pelajar tidak hanya terjadi di sekolah umum, di madrasah pun masih terjadi. Ada beberapa langkah alternatif yang bisa ditempuh oleh madrasah maupun sekolah umum dalam membentuk lulusan yang menguasai Iptek dan berakhlaq mulia. Dan tentumya tidak terlepas dari kondisi masing-masing lembaga pendidikan tersebut.

4.1 Integrasi Sistem Pendidikan Sains dan Agama.

Di sekolah umum pada dasarnya mempunyai penguasaan ilmu agama yang cenderung masih kurang. Akan tetapi kemampuan akademis yang dimiliki siswanya dapat dikatakan mumpuni bila dibandingkan siswa di madrasah. Seolah-olah dapat diprediksi bahwa kekurangan di sekolah umum menjadi kelebihan madrasah dan kekurangan madrasah menjadi kelebihan dari sekolah umum. Untuk membentuk siswa didik maupun lulusan yang memiliki kemampuan penguasaan iptek dan berbudi pekerti yang baik harus ada kombinasi dari dua sistem pendidikan tersebut.

Siswa-siswa dari sekolah umum biasanya memiliki kemampuan akademik yang tinggi karena memiliki porsi pembelajaran dalam hal eksak yang lebih banyak. Untuk meningkatkan kemampuan dibidang agama, sekolah harus menyediakan sarana khusus dan kegaiatan rutin yang mengarah pada pembinaan dan pengamalan ilmu agama. Sekolah menyediakan sarana atau asrama siswa untuk pembinaan agama berupa “pesantren siswa” yang pelaksanaannya bisa dilakukan secara berkala. Di pesantren tersebut didatangkan pengajar yang sudah berkompeten dalam ilmu agama. Selain itu sekolah harus mempunyai program nyata yang bisa mem-followup-i pembinaan di pesantren siswa. Dengan seperti ini maka siswa tidak hanya berfikir tentang pelajaran umum saja, tetapi terbiasa berbuat sesuai dengan ajaran agama. Selain menyediakan sarana pesantren siswa sekolah umum juga dapat membentuk program-program atau kegiatan rutin keagamaan yang dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dalam hal agama serta menyadarkan para peserta didik akan pentingnya pendidikan agama dan penanaman moral sebagai langkah pencegahan dari masuknya budaya luar yang negatif dan dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat.

Disadari atau tidak, budaya luar terus masuk dan berkembang di negeri yang telah menyatakan kemerdekaannya 63 tahun silam. Tetapi penjajahan masih terus dilakukan dengan menggunakan cara yang berbeda, tidak lagi dengan peperangan melainkan dengan cara merusak moral seperti model pakaian, cara bergaul dan lain-lain. Hal itu dilakukan karena model penjajahan dengan peperangan dan perluasan daerah sudah sulit dilakukan meskipun masih ada dilakukan oleh satu dua Negara. Dengan mengadakan sholat berjamaah, maka diharapkan akan timbul rasa memiliki sesama muslim dan mempunyai keterikatan atau rasa peduli sosial yang tinggi. Karena dengan sholat berjamaah kita akan semakin dekat dengan sang khalik dan hubungan persaudaraan akan semakin kental dengan saudara kita sesama muslim. Intensitas bertemu dengan teman saat sholat berjamaah akan mempunyai rasa yang berbeda bila dibandingkan dengan bertemunya kita dengan seseorang di pasa, kantin atau tempat umum lainnya.

Saat kita melihat orang sholat sunnah, membaca al-quran di masjid maka diharapkan kita tergerak untuk melakukan hal yang sama. Beda ceritanya saat kita bertemu dengan orang-orang dipasar yang “maaf” cara bicaranya biasanya susah diatur dan ngomong semaunya sendiri, maka secara tidak langsung kita akan tertular hal-hal yang demikian. Hal lain yang bisa dilakukan sekolah umum untuk meningkatkan pemahaman dan peningkatan moral para peserta didik adalah dengan mengadakan  kajian rutin. Dengan acara seperti ini maka siswa akan terus disadarkan untuk berbuat seuatu yang baik dan tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma agama dan norma masyarakat.

Berbeda halnya dengan Madrasah, ilmu agama sudah banyak diperoleh. Namun, penguasaan pelajaran eksak masih kurang. Untuk memaksimalkan kemampuan dan kompetensi siswa di madrasah, sangat diperlukan strategi baru dalam sistem pendidikannya. Teacher’s Assistant merupakan cara baru yang bisa diterapkan di madrasah. Menjadikan siswa menjadi asisten guru sangat membantu siswa yang bersangkutan dalam menambah kemampuannya. Siswa yang dijadikan asisten tersebut berasal dari siswa kelas lain yang lebih atas. Untuk tingkatan paling atas yaitu kelas VI, IX dan XII maka asistennya dapat diambilkan dari siswa di kelas itu yang mempunyai kemampuan lebih dalam mata pelajaran tertentu. Dengan seperti ini kesan religious oriented tidak terjadi dikalangan siswa yang belajar di madrasah. Dan membiasakan para asisten untuk menghadapai banyak orang sebelum terjun ke masyarakat supaya tidak canggung dalam bergaul. Hal ini juga menguntungkan bagi madrasah maupun guru pengajar. Pelaksanaan dari kegiatan tersebut setelah pelajaran usai. Selain itu untuk menerapkan pelajaran agama yang diperoleh harus ada program aplikasi yang menunjang pelajaran yang diperoleh. Hal ini dilakukan agar apa yang diperoleh di madrasah bisa dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah lulus pun siswa memiliki kapabilitas akademik yang tinggi dan berakhlaq yang baik.

4.2 Metode “Trans Teachers

Metode trans teachers dapat diterapkan jika sebelumnya sudah ada hubungan jaringan antara sekolah umum dan madrasah. Pengajar dari madrasah untuk beberapa waktu mengajar di sekolah umum, dan posisinya di madrasah diganti oleh guru dari sekolah yang bersangkutan. Dengan metode ini pengajar dari madrasah maupun sekolah umum dapat belajar tentang sistem pengajaran di tempat yang berbeda. Dengan begitu maka guru dari madrasah akan mendapat pengalaman mengajar di sekolah umum sehingga mengetahui cara-cara mengajar yang dilakukan di sekolah umum dalam meningkatkan kemampuan akademiknya. Guru dari sekolah umum dapat mengetahui sistem pengajaran yang ada di madrasah, terutama mengenai pembetukan watak dan moral siswa-siswa yang ada pada madrasah tersebut. Mereka bisa mengetahui sistem pembinaan agama di madrasah. Diharapkan dengan diperolehnya pengalaman tersebut, masing-masing guru bisa menerapkan sistem baru ketika kembali di tempat mengajar semula. Kendala yang dihadapi dari metode ini adalah sulitnya terbentuk kerjasama antara madrasah dan sekolah umum. Jika salah satu pihak yang akan bekerja sama tidak menyetujui akan terjadi kegagalan. Akan tetapi peluang untuk merangkul sekolah-sekolah yang lain masih terbuka lebar. Keuntungan selain memperoleh pengalaman mengajar bagi guru yaitu hubungan kerjasama dapat berlangsung lagi jika dirasa menguntungkan sehingga tidak hanya sebatas kerjasama dalam bentuk pertukaran guru.

4.3 Pembentukan “Sekolah Bersama” (School of Together).

Tidaklah mudah membuat sistem pendidikan yang berbasis agama dan Iptek dengan mensinkronkan keduanya kemudian dihasilkan lulusan yang intelek dan berbudi pekerti baik. Sebenarnya sistem di madrasah sudah mendekati bentuk ini. Akan tetapi masih ada kekurangan. Diperlukan format baru dalam penyampaian materi yang berbasis dua hal tersebut agar diperoleh hasil yang maksimal. Sekolah bersama dapat dibentuk untuk memperoleh hasil tersebut. Tidak hanya pihak madrasah dan sekolah, peran pemerintah utamanya Departemen Pendidikan dan Departemen Agama sangat diperlukan untuk mewujudkan. Pembentukan Sekolah Bersama sasarannya adalah madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah umum dalam lingkup yang berdekatan. Waktu pelaksanaannya berkala, misal seminggu sekali. Tentunya tempat harus disepakati oleh madrasah dan sekolah yang tergabung dalam sekolah tersebut. Kurikulum yang disampaikan harus mengarah pada penguasaan mata pelajaran umum dan pembinaan agama. Kombinasi antara ilmu agama dan iptek mutlak ada untuk mewujudkan pelajar yang berahlak baik serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengawasan yang ketat sangat diperlukan dalam pelaksanaan program ini. Elemen pengajar berasal dari pengajar-pengajar dari madrasah dan sekolah umum. Meskipun hanya satu hari dalam satu pekan jika terlaksana dengan maksimal dapat diperoleh sistem pengajaran yang benar-benar seimbang karena dua lembaga langsung bergabung dan dalam konteks praktek langsung.

Metode ini diharapkan mampu menutup kekurangan di madrasah dan sekolah umum serta memadukan kelebihan antara kedua lembaga pendidikan tersebut. Keuntungan lain yang dihasilkan dari metode ini meskipun hanya dilakukan dalam satu hari sangat banyak. Sekolah bersama dalam satu hari bisa dijadikan evaluasi kemampuan akademik siswa baik dari madrasah maupun sekolah umum. Dengan metode seperti ini diharapkan terjadi asimilasi dalam hal tingkah laku, tingkah laku dari siswa madrasah yang cenderung alim dan sopan bisa dijadikan rujukan bagi siswa dari sekolah umum.  Bagi siswa madrasah juga dapat menambah semangat dalam belajar dan terpacu dengan siswa yang lain setelah melihat kemampuan akademis dari siswa di sekolah umum. Faktor kejenuhan siswa juga bisa berkurang dengan adanya sekolah bersama berbasis agama dan iptek. Adanya kesenjangan ketika awal terbentuk antara siswa menjadi kendala awal ketika sekolah ini terbentuk. Hal ini wajar karena siswa–siswanya berasal dari macam lembaga pendidikan yang berbeda.


BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  • Lembaga pendidikan baik berupa madrasah dan sekolah umum memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan madrasah menguasai masalah agama dan kelebiahan sekolah umum lebih menguasai sains dan teknologi. Kelebihan tersebut bisa disatukan untuk memperoleh sistem pendidikan yang berbasis iptek dan agama.
  • Sekolah umum dapat membentuk pesantren siswa untuk meningkatkan kemampuan agama dan madrasah dapat menerapkan sistem Teacher’s Assistans untuk menambah kemampuan siswa di madrasah.
  • Metode Trans Teachers sangat membantu terwujudnya sistem pendidikan yang berbasis iptek dan agama. Metode ini dilakukan dengan penukaran pengajar dari madrasah ke sekolah umum dan sebaliknya.
  • Pembentukan “Sekolah Bersama” dengan program pengajaran yang mengarah pada pendalaman materi kelas dan pembinaan agama dapat dalam satu hari memiliki peluang besar mewujudkan lulusan atau siswa yang bermoral mulia dan mampu dalam masalah akademik.

5.2 Rekomendasi

Sistem pendidikan yang berbasis agama dan iptek yang disampaikan penulis hendaknya menjadi referensi bagi madrasah maupun sekolah umum karena tidak ada pembatasan masalah antara dua lembaga ini. Peran pemerintah sangat diperlukan untuk menanggapi wacana dari konsep yang penulis tawarkan.


DAFTAR PUSTAKA

Depatemen Pendidikan Nasional. 2006. Kilas Balik Pendidikan Nasional 2006. Jakarta: Pusat Informasi dan Humas Departemen Pendidikan Nasional.

M Rosyid, Daniel. 2008. Pendidikan Nasional Di Era Reformasi Mau Kemana?. Surabaya: SIC

Abdurrahman, Ahmad Taufik. 2008. Integrasi Pendidikan Umum dan Agama. http://tebuireng.net [7 Februari 2009]

Aliya. 2008. Menggagas Kembali Konsep Pendidikan Islam. http://warnaislam.com/ [ 5 Februari 2009]

Rahardjo. 2008. Madrasah Sebagai The Center Of Excellence. http://www.ditpertais.net/annualconference/ancon06/makalah/Makalah%20Rahardjo.doc [5 Februari 2009]

Sanaky, Hujair AH.2000. Pendidikan Islam di Indosesia. http://www.sanaky.com/materi/PENDIDIKAN_ISLAM_DI_INDONESIA.pdf

Yusron, Muhammad. 2002. Sekulerisme Dalam Sistem Pendidikan. http://dudungnet.net [5 Februari 2009]

2 Tanggapan

  1. mksh bangetttttttttttttttttttttttt ats bntuannya…..

  2. wah penjelasan yg sanat detail. trm kash…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: