Antara Pesantren dan Globalisasi

Loyalitkehidupan santrias yang tinggi terhadap seorang ustadz atau ustadzah itulah salah satu ciri yang mengakar kuat dalam nuansa Pondok Pesantren. Acap kali, orang yang melihat akan terheran ketika seorang kyai menyuruh santri mengerjakan sesuatu. Tanpa berfikir panjang para santri yang mendapat dawuh atau perintah tersebut, akan mengerjakan tugas yang diamanahkan. Santri terfikir sama sekali tentang imbalan. Keberkahan adalah yang sangat mereka harapkan. Ketika teguran datang dari seorang ustadz maka satu suku kata pun tidak terucap dari mulut para santri. Mereka menyadari dan merenung kesalahan yang dia perbuat. Para santri mencoba untuk mengevaluasi kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat. Hal ini bukan semata-semata absolutisme seorang ustadz atau kyai, tapi pendidikan yang yang mengajarkan betapa pentingnya tanggung jawab dan keberanian menghadapi resiko dari suatu perbuatan yang ditanamkan kepada para santrinya.

Kehidupan pesantren mengajarkan para santri untuk bertahan dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan. Kehidupan santri utamanya di pesantren salafi1 mengajarkan santri untuk hidup mandiri. Tidak sedikit dari para santri yang harus hidup diantara “kekurangan”. Kondisi inilah yang menjadi mereka banyak tirakatnya. Dan tirakat itulah yang dijadikan sebagai senjata andalan bagi perasaan mereka ketika dilanda kekeringan kantong. Tanpa mengeluh sedikitpun. Meski demikian semangat untuk mencari ilmu tidak berkurang sama sekali. Mereka sangat percaya dengan apa yang dituturkan dalam kitab ta’limul muta’alim. Banyak berfoya-foya dalam menuntut ilmu hanya akan membuat ilmu tidak barokah dan otak tidak bisa berfikir. Mereka tetap bersabar dalam menuntut ilmu dalam kondisi apapun. Meski bangun dikala orang terlelap tidak menjadi beban sedikitpun. Meski mereka harus menahan kelopak mata agar tetap terbuka disaat kantuk menghantui, tidak membuat semangatnya redup. Berbekal sebuah kitab kuning yang bertuliskan arab tanpa harokat dan bolpion buntut mengais ilmu yang Alloh berikan lewat ulama-ulama terdahulu. Sebuah pemandangan yang indah dikala kita menyaksikan saat itu.

Membicarakan pesantren tidak lepas dari kehidupan madrasah. Satu hal yang agaknya tertinggal dari kehidupan mereka. Kemajuan teknologi tampaknya masih belum diperhatikan oleh mereka. Meskipun banyak pesantren yang sudah memiliki instansi pendidikan formal, tetapi sentuhan akan teknologi masih belum terasa. Banyak madrasah yang berdiri dibawah pesantren kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Kesannya masih masih dianaktirikan. Padahal kapasitasnya belum tentu dibawah sekolah-sekolah umum apabila mendapat fasilitas yang memadai. Kurikulum yang diajarkan dipesantren pun lebih beragam. Pendidikan agama mendapat jam-jam yang khusus tidak satu jam seperti sekolah pada umumnya. Akan tetapi mata pelajaran yang menjadi bahan ujian nasional juga tetap menjadi prioritas. Sampai saat ini memang madrasah belum mampu bersaing dengan sekolah lain dalam hal akademiknya maupun teknologinya. Hal ini berimbas pada kemampuan lulusannya. Kehidupan pesantren yang jauh dari kemajuan teknologi memang layak menjadi perhatian. Sederan prestasi yang dicapai pesantren mungkin hanya bergaung dalam lingkup para santri. Ironis memang, jika pesanteren tempat menuntut ilmu para santri yang notabandnya juga sebagai generasi penerus bangsa tidak menjadi perhatian sama sekali.

Di tengah kenidupan yang penuh pernik-pernik kemajuan teknologi masih banyak pesantren yang “gagap teknologi”. Wajar jika ada sebagian santri yang dikatakan susah membedakan antara eternit dan internet. Jika pendidikan umum menjadi perhatian yang serius bagi masyarakat, mengapa pesantren tidak? Pesantren dimata public hanya dijadikan sebagai sarana mencetak para dai atau pemuka agama dalam masyarakat. Lulusan dari pesantren hanya diprediksi berkutik di dua hal itu. Dan itulah yang terjadi di sebagian besar pesantren utamanya daerah didaerah pedesaan. Padahal pesantren atau madrasah sudah dapat menyeimbangkan antara pendidikan agama dan umum dilihat dari system kurikulumnya. Banyak langkah yang bisa ditempuh oleh pemerintah maupun pihak madrasah untuk mengembangkan pendidikan dimadrasah maupun pesantren.

1. Peningkatan Mutu Pengajar.

Sistem kurikulum di Madrasah sudah sangat baik. Sistem pengajaran yang mengarahkan siswa pada keseimbangan Intelektual, emosional dan spiritual sudah dimiliki. Tinggal bagaimana para guru-guru menyampaikan pada para siswanya. Jika para pengajar tidak berkompeten dalam bidangnya kemudian mengajar tentunya hasilnya juga tidak maksimal. Fenomena inilah yang masih ada dibeberapa madrasah. Orientasinya bukan memperoleh lulusan yang berprestasi tapi cukup semuanya lulus disaat ujian. Inilah yang harus diakui oleh sebagian besar madrasah. Peningkatan mutu pengajar harus ditingkatkan melalui penataran khusus. Kalau perlu bagi yang belum memperoleh gelar sarjana diberi subsidi untuk khusus untuk melanjutkan studinya.

2. Pemenuhan Sarana dan Prasarana yang Memadai.

Di madrasah pendidikan tentang komputer sudah diajarkan. Akan tetapi, itu hanya teori. Untuk mempraktekkan belum maksimal. Jumlah computer hanya satuan di gunakan untuk ratusan siswa. Padahal computer saat ini sudah menjadi kebutuhan utama disekolah-sekolah. Yang lebih ironis lagi jika suatu madrasah tidak memiliki laboratorium computer khusus. Belajar computer menjadi satu dengan ruang kantor. Jika berharap bahwa lulusan wajib belajar 15 tahun menghasilkan lulusan yang berkompeten pemerintah juga harus memperhatikan fasilitas di madrasah. Madrasah juga sebagai tempat menuntut ilmu dan ujiannya pun disamakan. Selain pemerintah , pihak madrasah juga harus menjemput bola dalam hal ini. Terlalu banyak berharap tanpa usaha yang jelas rasanya mustahil. Tidak mungkin pihak pemerintah tahu persis kondisi semua madrasah di nusantara. Pihak madrasah harus senantiasa berhubungan langsung dengan pemerintah lewat Departemen Agama. Pemerataan bantuan sarana harus terpenuhi. Biarlah sekolah maupun madrasah yang sudah maju tidak mendapat perhatian banyak, tapi madrasah yang masih tertinggal dimaksimalkan. Tentunya tidak mudah bagi pemerintah untuk menanamkan prinsip pemerataan ini.

3. Membina Hubungan dengan Sekolah Umum.

Kemajuan yang dicapai oleh sekolah umum seperti SMP dan SMA sudah tidak bisa dipungkiri. Berbeda halnya dengan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).Untuk setara saja masih terlalu berat. Oleh sebab itu belajar dari yang lebih baik adalah diperlukan. Ini dapat ditempuh dengan membina hubungan dengan sekolah umum agar madrasah bisa mengevaluasi kekurangan yang dimiliki. Langkah ini tidak terlalu berat bila dibandingkan dengan dua hal diatas. Akan tetapi hasil yang dicapai bisa lebih maksimal. Besarnya sebanding dengan kemauan pihak madrasah untuk mengadakan hubungan demi kemajuan. Utamanya belajar tentang cara pengajaran dan menejemennya. Jika belajar dari kurikulumnya jelas berbeda. Dan kurikulum itu tidak perlu untuk dirubah tapi diperbaikki cara pengajarannya.
Tiga langkah tersebut bila terpenuhi kapasitas dari madrasah setidaknya sudah bisa setara dengan sekolah umum. Lulusannya pun akan dapat bersaing dengan lulusan dari sekolah-sekolah umum. Image masyarakat yang memandang bahwa madrasah hanya sebagai pencetak pemuka agama dan pelarian bagi siswa yang tidak lolos seleksi disekolah favorit berangsur-angsur hilang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: