PENDIDIKAN NASIONAL DAN VIRUS U1N1

19 siswa yang diikutkan ujian nasional disekolah lain merasa binggung saat Ujian Nasional (UN) mendapati guru dan murid saling contek saat UN. Diawali dengan sebuah contoh konkrit tersebut, Pak Daniel mulai menuturkan tentang kondisi pndidikan yang ada di Indonesia. Beliau menyampikan bahwa peristiwa itu adalah sebagian kecil apa yang terjadi dalam dunia pendidikan. Banyak kasus yang tidak diketahui oleh publik. Jika diamati bersama pendidikan nasional tidak semakin baik. Pendidikan nasional seolah bergerak perlahan tapi kepastian kualitasnya seolah menurun. Yang lebih ironis lagi semakin tinggi pendidikan justru semakin mudah untuk menganggur. Orang yang berpendidikan tinggi jika mau bekerja memilih-milih pekerjaan yang bisa menjaga imagenya. Harusnya semakin tinggi pendidikan semakin banyak pengalaman yang dimiliki. Ketika lulus sudah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Tapi itu sulit untuk dilakukan oleh lulusan pendidikan tinggi. Berarti ada yang tidak benar dengan system pendidikan yang ada di Indonesia.

Pendidikan Di Indonesia terlalu formalistik . Pendidikan hanya diajarkan dimeja-meja sekolah. Kesan bahwa pengajaran hanya dilakukan diruang kelas masih terpaku dengan erat dalam benak masyarakat. Padahal sekolah bisa langsung ke alam tidak hanya dalam ruang kelas. Selain itu pendidikan nasional menerapkan system yang simetris. Kemampuan anak-anak disetiap daerah dianggap sama. Padahal dikenyataannya berbeda. Misalnya di irian jaya diajarkan tentang kereta api padahal disana tidak ada kereta api. Berbeda dengan orang-orang yang di jawa. Seharusnya pendidikan harus asimetri yaitu lebih berorientasi pada kebutuhan (Demand). Butuhnya orang di Jawa apa harus dipenuhi. Butuhnya orang Kalimantan apa harus difasilitasi. Bukan semua dianggap sama sehingga ilmu yang dipelajari percuma karena tidak ada penerapan. Kurikulum yang diajarkan harus relevan dengan kondisi terkini yang terjadi. Jika apa yang disampikan pada siswa hal-hal yang sudah tidak relevan hanya akan membuat siswa berfikir kebelakang bukan ke depan yang lebih baik.

Jika dipahami realita yang terjadi menunjukan bahwa sekolah hanya dijadikan tempat guru mengajar dan dijadikan tempat mengejar target kurikulum pendidikan nasional. Para siswa dipaksa untuk menyesuaikan kurikulum pendidikan nasional. Pendidikan yang disampaikan disekolah dirasakan begitu mengasingkan siswa dengan kehidupan sehari-hari. Apa yang disampaikan dikelas tidak begitu kontras dengan apa yang dialami diluar kelas. Ini mengakibatkan siswa merasa asing dengan dunia luar kelas dan kurang tanggap terhadap peristiwa yang dijumpai diluar kelas. Oleh sebab itu belajar tidak harus dilakukan diluar kelas. Dengan seperti itu nantinya bisa diperoleh bahwasannya belajar adalah proses memaknai pengalaman yang unik.

Disisi lain masalah ujian nasional menjadi masalah yang kontradiktif. Ujian nasional dijadikan alat pemicu dan ukuran mutu pendidikan. Padahal ujian hanya beberapa hari sedangkan sekolah dala waktu tiga tahun. Belum juga jika ada kecurangan saat ujian. Dengan adanya ujian nasional pembelajaran hanya diarahkan untuk mengikuti ujian nasional. Pelajaran yang tidak diujikan tidak diperhatikan padahal dibutuhkan bagi masyarakat misal ketrampilan. Dengan ujian nasional juga menegaskan bahwa guru sebagai profesi bukan pengajar. Oleh sebab itu ujian nasional merupakan virus H1Ni yang menggerogoti system pendidikan nasional.(oleh :widodo release dialog tokoh bersama pakar pendidikan jatim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: