Seminar AMAZING YOU

 

Jangan lewatkan Seminar Amazing You

Info lebih lanjut: wiwid (0857 300 77339)

 


Mengukur Pengorbanan

Perjalanan waktu yang telah tertempuh tidak akan pernah kembali. Pergantian siang malam menjadi keberuntungan bagi mereka yang senantiasa menunpuk amal kebaikan. Berbeda bagi mereka yang mengisinya dengan keburukan. Mulialah mereka yang tidak pernah mengeluh atas pengorbanan yang mereka lakukan untuk merengkuh kehidupan bahagia dibawah ridlo-Nya. Surga. Tidak ada secercah pun rasa kecewa dan berat hati dalam meniti bukit-bukit terjal kehidupan. Pengorbanan untuk kejayaan adalah cita-cita tertinggi bagi mereka.

Dialah Ummu Amarah, Nusaibah binti Ka’ab Al Maziniay. Rasulullah menobatkannya sebagai bidadari surga karena perannya membela Rasulullah saat pasukan muslimin terdesak pada perang Uhud. Bersama Mush’ab bin Umair -yang kemudian menemui syahid setelah mendapatkan puluhan tusukan di tubuhnya- Nusaibah menghadang Qam’ah, orang yang dipersiapkan membunuh Rasulullah dalam perang tersebut. Dua belas tusukan dan salah satunya mengenai leher Nusaibah. Bilah-bilah pedang yang satu persatu menghujam tubuhnya, ujung-ujung cadas tombak, dan barisan anak panah yang menghias tubuhnya, dirasainya sebagai sentuhan lembut para penghuni Surga. Darah mengalir dari setiap inci tubuhnya, air matanya menjadi saksi tak terbantahkan untuk memuluskan jalannya ke surga Allah. Dan debu bukit Uhud pun terharu menerima dentuman tubuhnya, tak henti-hentinya milyaran debu itu bersaksi akan harumnya wangi surga dari tubuh perempuan mulia itu.

Adalah Mush’ab bin Umair, aroma mewangi sudah tercium persis di depan hidung meski pemuda tampan itu masih berada puluhan meter jauhnya. Pakaiannya terbaik, terbagus dan termahal dari yang pernah dimiliki siapapun di tanah Makkah. Ketampanannya tak terkira, siapa memandang pasti terpesona, bahkan para lelaki pun iri. Siapa yang tak mengenalnya, pemuda perlente anak seorang bangsawan yang kesohor. Tetapi bukan itu yang membuatnya tercatat dalam sejarah manusia mulia pengikut Muhammad. Begitu terucap dari mulut wanginya kalimat Syahadat, bertambah wangi lah setiap sisi rongga mulutnya, wajah yang tampan semakin bersinar penuh cahaya kemuliaan meski tak lagi ia mengenakan gamis kebangsawanan, walau ia menanggalkan semua atribut yang menjadi simbol-simbol kebesaran. Mush’ab tetap tampan, kharismatik, dan menjadi teladan bagi pemuda dan remaja dimasanya, terlebih saat ia dipercaya sebagai duta pertama Rasulullah ke Madinah. Cita-citanya untuk tetap bersama Rasulullah di Surga kelak, di amin-kan oleh seluruh isi langit dan bumi, karena seorang pemuda kaya raya nan tampan itu syahid dengan tubuh penuh lubang dan sayatan. Ia menjadi tameng Rasullullah pada perang Uhud. Meski darah dan debu membaluti wajah dan tubuhnya, siapa yang bisa melepaskan beyang-bayang kharismanya?

Baca lebih lanjut

Episode Kefanaan

Episode kehidupan berganti tiap waktu. Pada setiap bagian-bagian menunjukan satu hal yang berujung pada ketidakadaan. Dari kecil kemudian besar dan akhirnya hilang. Kasih sayang, suka cita tiba-tiba merubah wujudnya menjadi kebencian dan duka.  Entah disadari ataupun tidak itulah yang terjadi. Tidak heran dalam benak terkadang muncul pertanyaan-pertanyaan retoris. Pertanyaan yang kita sudah sangat tahu jawabannya. Ada apa dengan ini semua ?

Ketika Matahari menampakkan diri di pagi hari, dan terus menerpakan sinarnya ke setiap sudut alam hingga puncaknya pada tengah hari. Menjelang senja, ia pun mulai bersiap-siap meninggalkan singgasananya untuk bertukar peran dengan rembulan yang akan bercahaya menerangi malam hingga fajar. Bulan tak sendiri, ia ditemani oleh bintang-bintang yang berkelipan, belum lagi lintasan-lintasan benda langit lainnya yang menjadikan alam atas teramat mengagumkan. Begitu seterusnya, tak pernah matahari menguasai sepanjang hari, bulan dan bintangpun demikian. Karena sesungguhnya, tak satupun mereka berhak memiliki hari sepenuhnya.

Terkadang, langit cerah disertai mentari pagi yang menghangatkan menjadi mimpi terindah setiap makhluk di muka bumi. Tapi, tidak akan pernah mentari seterusnya berseri dan langit cerah, karena bukan tidak mungkin atap dunia itu berubah mendung dan menghitam, mencekam dan menebar ketakutan. Angin sejuk sepoi-sepoi yang terasa menyegarkan saat belaiannya menyentuh kulit, sesaat kemudian bisa berputar dan berputar membentuk tornado yang dalam sedetik meluluhlantakkan semua yang terhampar di bumi. Air laut yang tenang, pantai yang indah dengan ombak yang melambai indah, hamparan pasir yang halus, disaat yang lain bisa menjadi gelombang air dahsyat yang menenggelamkan sejuta harapan, meninggalkan bekas yang memilukan.

Baca lebih lanjut

Ini Bukanlah Penyesalan

Ada nyeri yang tertera di hati. Ada kegamangan yang bersemayam dan menguncang perasaan. Sekali lagi, inikah episode akhir dari sebagian tholabul ‘ilmi. Serasa baru kemarin ku injakkan kaki di kampus tercinta ini. Namun tanpa tersadari sekian tahun telah berlalu. Begitu cepatnya sang waktu berputar. Dan membuat saya bertanya-tanya : adakah kemanfaatan ilmu yang saya dapatkan saat ini. Adakah keberkahan yang akan mengiringinya nanti. Entahlah, saya tidak tahu dan yakin sepenuhnya Allah Maha Mengetahuai. Mungkin ada banyak cara untuk sampai disana.

Predikat sarjana telah tersemat. Ketika masih mahasiswa benar-benar menjadi harapan siapapun jua. Tak terbayang jika kemudian justru menjadi beban bagi siapapun. Aku yakin kata sarjana tidak sama dengan kata cerdas. Kubandingkan keduanya kemudian kubuka hadist ini,” Orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan berbuat untuk masa setelah mati. Orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan berharap (banyak) pada Allah” (HR.Turmuzi, dari riwayat Syaddad bin Aus ra).

Kusadari ini bukan di etape final. Aku masih bisa berharap banyak untuk menjadi sang pemenang. Jika saja aku boleh berandai, jarum jam diputar. Namun, Islam melarang pengandaian. Benar. Konsentrasi di babak ini seringkali buyar. Ada kelalaian yang seringkali menghantui. Sepenuhnya aku percaya, sebagai mahasiswa akan mengalami masa penyesalan ini. Bukan karena rendahnya IPK, bukan karena tidak cumloude tapi semata-mata oleh satu hal. Mampukah aku menjadi yang terbaik diantara sekian juta para pemburu satu cinta, sejuta pengampunan dan seribu keberkahan? Aku malu menanyakannya pada diriku sendiri.

Baca lebih lanjut

Mereka Yang Kurindu

“kulayangkan pandangku melalui kaca jendela

dari tempatku bersandar seiring laju kereta

membawaku melintasi tempat-tempat yang indah

membuat hidupku jadi penuh riuh dan berwarna

kulepaskan rinduku setelah aku kembali pulang…”

(Gak tahu lagu siapa asal ngopy liriknya)

Sepanjang perjalanan yang selalu ku kenang. Wonogiri-Madiun-Surabaya, yang ada di kepala hanya mereka yang kurindu.

Yang wajah-wajahnya selalu kuingat. Yang tiap wajah punya ruang di dalam hatiku. Yang masing-masing wajah punya cerita bersamaku. Setiap wajah selalu punya sesuatu untuk dibagi bersamaku. Yang tiap wajah selalu kurindu. Merekalah yang kurindu.

Yang smsnya selalu kutunggu. Yang smsnya selalu mebuatku tersenyum. Yang isi smsnya terkadang membuatku tertawa hingga terjengkang. Yang smsnya selalu membuatku semakin merindukan mereka. Merekalah yang kurindu.

Yang suaranya selalu bergema di telingaku. Yang telponnya selalu kutunggu tiap malam. Yang tiap kali bicara denganku selalu meneduhkan hatiku yang bagai riam. Mereka itu yang kurindu.

Baca lebih lanjut

Curahan Kisah Romantisme Masa Lalu Dan Ironisme Masa Kini

Beliau seorang sahabat yang ketundukan dan kepatuhannya terhadap Islam terpatri kuat dalam budi dan sanubarinya. Disaat perang melawan kekafiran seperti perang badar dan perang lainnya berkecamuk, dia tidak pernah absen untuk membela agama Alloh. Derajat yang mulia dikalangan muslimin angkatan pertama disandangnya. Beliau adalah Ubai bin Ka’ab. Seorang sahabat dari Ansor yang tetap setia dan tekun baik dalam beribadat, teguh dalam beragama dan utama dalam keluhuran budi setelah Rasululloh wafat.

Tatkala wilayah Islam telah meluas, dan dilihatnya sebagian kaum muslimin mulai menyeleweng dengan menjilat kepada pembesar-pembesar mereka, ia tampil dan melepaskan kata-katanya yang tajam : ” Celakalah mereka, demi Tuhan mereka celaka dan mencelakan! Tetapi saya tidak menyesal dengan nasib mereka, hanya saya sayangkan adalah kaum muslimin yang celaka disebabkan mereka”. Ubai bin Ka’ab selalu menangis setiap teringat akan Allah dan hari akhir, setiap ayat Al Qur’an yang didengarnya menggetarkan hatinya. Dan beliau sangat merasa berduka tak terlukiskan setiap mendengar ayat Al Qur’an :”Katakanlah : Ia kuasa akan mengirim siksa kepada kalian, baik dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau membaurkan kalian dalam satu golongan berpecah-pecah, dan ditimpakan kalian perbuatan kawannya sendiri”

Kata-kata tajam Ubai Bin Ka’ab tidak sekedar didasarkan pada emosi atas kasih sayangnya terhadap umat Islam pada saat itu. Lebih dari itu, dia memikirkan kaum muslimin yang akan celaka disebabkan ulah mereka. Entah pada saat itu maupun jauh dimasa yang akan datang. Insting kepedulian yang tidak hanya mengarah pada terhadap satu generasi. Memikirkan generasi yang akan datang. Ucapan yang tidak hanya sekedar keluar karena tergugah oleh kondisi umat yang lalai, tetapi ucapan yang keluar sebagai manifestasi ayat-ayat AlQur’an yang telah diyakini kebenarannya.

Suatu ketika ia berucap kepada kaumnya ” Selagi kita bersama Rasulullah tujuan kita satu, Tetapi setelah ditinggalkan beliau tujuan kita bermacam-macam ada yang ke kiri dan ada yang kekanan!” Mengenai dunia Ubai bin Ka’ab mernah menuliskannya sebagi berikut : ” Sesungguhnya makanan manusia itu sendiri dapat diambil sebagai perumpaan bagi dunia, biar dikatakannya enak atau tidak, tetap yang penting menjadi apa nantinya?

Baca lebih lanjut

Kejujuran Cinta

“Dan Tuhan mu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Alloh turunkan dari langit berupa air, lalu dengan itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Alloh) bagi kaum yang memikirkan.

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Alloh. Dan jika seandainya orang-orany yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Alloh semuanya dan bahwa Alloh amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)” (Q.S Al Baqoroh ayat 163-165)

Ada diantara kelompok manusia yang manakah kita ?

Saudaraku,
Pernahkah terfikir oleh diri, ketika pagi hari kita memulai aktivitas, berapa banyak orang yang mendasarkan seluruh aktivitasnya atas keridhoan Alloh? Setiap kali pikiran itu terlintas, sepenuh syukurlah harusnya kita panjatkan pada Alloh bahwa saat itu dan saat ini kita masih mendasarkan langkah kita atas ridho Alloh dan senantiasa merasa berada dalam pengawasanNya.

Baca lebih lanjut