Mereka Yang Kurindu

“kulayangkan pandangku melalui kaca jendela

dari tempatku bersandar seiring laju kereta

membawaku melintasi tempat-tempat yang indah

membuat hidupku jadi penuh riuh dan berwarna

kulepaskan rinduku setelah aku kembali pulang…”

(Gak tahu lagu siapa asal ngopy liriknya)

Sepanjang perjalanan yang selalu ku kenang. Wonogiri-Madiun-Surabaya, yang ada di kepala hanya mereka yang kurindu.

Yang wajah-wajahnya selalu kuingat. Yang tiap wajah punya ruang di dalam hatiku. Yang masing-masing wajah punya cerita bersamaku. Setiap wajah selalu punya sesuatu untuk dibagi bersamaku. Yang tiap wajah selalu kurindu. Merekalah yang kurindu.

Yang smsnya selalu kutunggu. Yang smsnya selalu mebuatku tersenyum. Yang isi smsnya terkadang membuatku tertawa hingga terjengkang. Yang smsnya selalu membuatku semakin merindukan mereka. Merekalah yang kurindu.

Yang suaranya selalu bergema di telingaku. Yang telponnya selalu kutunggu tiap malam. Yang tiap kali bicara denganku selalu meneduhkan hatiku yang bagai riam. Mereka itu yang kurindu.

Baca lebih lanjut

“Memahami Emansipasi Yang Di Harapkan Kartini”

Peringatan hari Kartini seharusnya tidak hanya dilakukan acara-acara seremonial melainkan kita lihat substansinya. Substansi yang harus kita ambil dan kita teladani adalah semangat Kartini untuk pemberdayaan wanita. Kartini adalah sosok muslimah dengan kecerdasan emosional, spiritual, dan intelektual yang gelisah melihat kedzaliman, ketidakadilan, kegelapan dan ketimpangan di lingkungan masyarakatnya. Semangat Kartini bukan semangat emansipasi, tetapi menuntut bahwa perempuan juga seharusnya diberikan hak mendapatkan pendidikan, karena pendidikan merupakan jendela menuju arah kemajuan.
Sebentar lagi tanggal 21 April. Bulan dimana kalau dulu banyak perempuan jadi hobbi pakai kebaya. Tapi mungkin masih ada sebagian kecil seperti anak-anak TK yang berpawai sepanjang jalan dengan dandanan menor hingga para ekspatriat yang lagi kerja di Indonesia, semua menyulap diri dengan kebaya dan pakaian daerah lainnya. Bulan emansipasi wanita, katanya. Karena ada Ibu kita Kartini lahir sebagai pelopor perjuangan kaum perempuan untuk melepaskan belenggu dari adat istiadat yang merendahkan. Beliau dielu-elukan sebagai pemerdeka kaumnya. Hari lahirnya yang diperingati setiap tahun dengan acara berpakaian Jawa ala beliau dahulu, seakan-akan dengan bertingkah sedemikian rupa sudah berarti menghargai jasa-jasanya. Merdeka seperti apa yang sebenarnya diinginkan Kartini?
Merdeka. Bebas. Lepas. Kosakata ajaib yang jadi idaman banyak orang di dunia. Tidak terlebih kaum perempuan Indonesia. Dengan tameng kebebasan inilah akhirnya para perempuan ini menuntut persamaan hak dengan laki-laki. Mereka yang dulu merasa terjajah dengan dominasi kaum cowok ini, ingin bebas dan lepas. Kebanyakan dari mereka tak lagi mau diatur-atur baik oleh kakak laki-laki, ayah, apalagi suami. Mereka berusaha memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri, katanya.

Baca lebih lanjut

Memaknai Tiap Tetes Air Mata

air mataPekerjaan menunggu memang terkadang sangat membosankan. Menunggu membuat pikiran kemana-mana alias GeJe ( gak jelas). Itulah peristiwa yang kualami saat mau berangkat ke Surabaya. Tiba-tiba sebuah peristiwa unik terjadi di depanku. Lumayan mengurangi rasa bosan saat menunggu. Ada wanita yang menangis di sebuah halte bus. Tentu saja hal itu menarik perhatian orang disekitarnya. Wanita itu kelihatannya masih muda. Kalau bisa diukur usianya kira-kira seukuran mahasiswalah. Setelah ditanya oleh orang-orang yang mendekat. Jawabannya lucu tapi gak buat orang ketawa. Ada yang bisa nebak? Jawabannya ternyata dia baru saja putus dengan sang pacar. Untung saja saya tidak mendekat ,bias-bisa jadi gantinya (he..). Astaghfirullah..Saya jadi heran dengan gadis itu (pakai kata wanita terasa tua kalau kata akhwat kayaknya kurang tepat..he…). Kenapa begitu mudahnya ia menumpahkan air mata hanya karena seorang lelaki. Kalau suami sih tidak masalah tapi ini pacar. Semoga saja tidak ada yang merasa tersinggung atau jangan-jangan banyak yang mengalami. Kalau pun ,ada semoga tidak menuntut saya.

Peristiwa itu membawa pikiran saya berkelana kemana-mana tanpa arah. Beberapa saat kemudian saya teringat dengan sebuah kisah yang pernah saya baca. Saya mencoba untuk mengkolaborasikan kedua kisah ini untuk diambil celah-celah hikmahnya. Suatu ketika ada seorang ustadz melihat seorang anak berwudhu di tepi sungai sambil menangis. Ia bertanya, ”Nak, mengapa engkau menangis?”. Anak tersebut menjawab, ”Saya membaca ayat Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’ (Buka dech Al Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6). Saya khawatir, jangan-jangan Allah memasukkan saya ke dalam neraka.” Ustadz menjelaskan, ”Wahai anak kecil, kamu tidak akan disiksa, karena kamu belum baligh, jangan merasa takut, kamu tidak berhak memasuki neraka”. Anak tersebut menjawab, ”Wahai Ustadz, engkau adalah orang yang pandai, tidakkah Ustadz tahu bahwa seseorang yang menyalakan api untuk satu keperluannya, memulai dengan kayu-kayu yang kecil baru kemudian yang besar?” .Sungguh kontras bukan dengan kejadian sebelumnya. Menangisnya sama. Yang keluar juga sama air mata. Akan tetapi punya taste berbeda. Yang kedua lebih punya taste. Makanya kalau mo nangis pilih-pilih. Air mata sebaiknya ditumpahkan pada posisi yang benar. Tentunya kita ingin air mata kita tidak sia-sia karena menyesali dunia yang katanya hanya panggung sandiwara.

Maknai Air Mata Sebagai Besaran

Ngomongin besaran sedikit nyinggung dengan Fisika dikit. Lagi-lagi fisika, semoga gak bosan. Bagi yang merasa bosan silahkan pindah kejurusan fisika dijamin mantab jaya (Promosi…biar banyak temen). Pelajaran Fisika Dasar bagian awal, kalau tidak salah membahas tentang suatu besaran. Suatu yang mempunyai nilai dan arah itulah besaran. Setiap air mata yang kita keluarkan sekiranya diatur agar memiliki nilai dan arah. Jangan sampai tumpah tanpa membawa berkah. Tapi tunggu dulu, persepsinya jangan ngawur. Air mata yang dimaksud bukan air mata yang keluar disaat kebanyakan makan cabai atau kemasukan debu. Akan tetapi air mata yang keluar karena penyesalan dan takut kepada Alloh. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.