Pekerjaan menunggu memang terkadang sangat membosankan. Menunggu membuat pikiran kemana-mana alias GeJe ( gak jelas). Itulah peristiwa yang kualami saat mau berangkat ke Surabaya. Tiba-tiba sebuah peristiwa unik terjadi di depanku. Lumayan mengurangi rasa bosan saat menunggu. Ada wanita yang menangis di sebuah halte bus. Tentu saja hal itu menarik perhatian orang disekitarnya. Wanita itu kelihatannya masih muda. Kalau bisa diukur usianya kira-kira seukuran mahasiswalah. Setelah ditanya oleh orang-orang yang mendekat. Jawabannya lucu tapi gak buat orang ketawa. Ada yang bisa nebak? Jawabannya ternyata dia baru saja putus dengan sang pacar. Untung saja saya tidak mendekat ,bias-bisa jadi gantinya (he..). Astaghfirullah..Saya jadi heran dengan gadis itu (pakai kata wanita terasa tua kalau kata akhwat kayaknya kurang tepat..he…). Kenapa begitu mudahnya ia menumpahkan air mata hanya karena seorang lelaki. Kalau suami sih tidak masalah tapi ini pacar. Semoga saja tidak ada yang merasa tersinggung atau jangan-jangan banyak yang mengalami. Kalau pun ,ada semoga tidak menuntut saya.
Peristiwa itu membawa pikiran saya berkelana kemana-mana tanpa arah. Beberapa saat kemudian saya teringat dengan sebuah kisah yang pernah saya baca. Saya mencoba untuk mengkolaborasikan kedua kisah ini untuk diambil celah-celah hikmahnya. Suatu ketika ada seorang ustadz melihat seorang anak berwudhu di tepi sungai sambil menangis. Ia bertanya, ”Nak, mengapa engkau menangis?”. Anak tersebut menjawab, ”Saya membaca ayat Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’ (Buka dech Al Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6). Saya khawatir, jangan-jangan Allah memasukkan saya ke dalam neraka.” Ustadz menjelaskan, ”Wahai anak kecil, kamu tidak akan disiksa, karena kamu belum baligh, jangan merasa takut, kamu tidak berhak memasuki neraka”. Anak tersebut menjawab, ”Wahai Ustadz, engkau adalah orang yang pandai, tidakkah Ustadz tahu bahwa seseorang yang menyalakan api untuk satu keperluannya, memulai dengan kayu-kayu yang kecil baru kemudian yang besar?” .Sungguh kontras bukan dengan kejadian sebelumnya. Menangisnya sama. Yang keluar juga sama air mata. Akan tetapi punya taste berbeda. Yang kedua lebih punya taste. Makanya kalau mo nangis pilih-pilih. Air mata sebaiknya ditumpahkan pada posisi yang benar. Tentunya kita ingin air mata kita tidak sia-sia karena menyesali dunia yang katanya hanya panggung sandiwara.
Maknai Air Mata Sebagai Besaran
Ngomongin besaran sedikit nyinggung dengan Fisika dikit. Lagi-lagi fisika, semoga gak bosan. Bagi yang merasa bosan silahkan pindah kejurusan fisika dijamin mantab jaya (Promosi…biar banyak temen). Pelajaran Fisika Dasar bagian awal, kalau tidak salah membahas tentang suatu besaran. Suatu yang mempunyai nilai dan arah itulah besaran. Setiap air mata yang kita keluarkan sekiranya diatur agar memiliki nilai dan arah. Jangan sampai tumpah tanpa membawa berkah. Tapi tunggu dulu, persepsinya jangan ngawur. Air mata yang dimaksud bukan air mata yang keluar disaat kebanyakan makan cabai atau kemasukan debu. Akan tetapi air mata yang keluar karena penyesalan dan takut kepada Alloh. (more…)
Filed under: Tulisan | Ditandai: Taujih | Tinggalkan sebuah Komentar »