Mengukur Pengorbanan

Perjalanan waktu yang telah tertempuh tidak akan pernah kembali. Pergantian siang malam menjadi keberuntungan bagi mereka yang senantiasa menunpuk amal kebaikan. Berbeda bagi mereka yang mengisinya dengan keburukan. Mulialah mereka yang tidak pernah mengeluh atas pengorbanan yang mereka lakukan untuk merengkuh kehidupan bahagia dibawah ridlo-Nya. Surga. Tidak ada secercah pun rasa kecewa dan berat hati dalam meniti bukit-bukit terjal kehidupan. Pengorbanan untuk kejayaan adalah cita-cita tertinggi bagi mereka.

Dialah Ummu Amarah, Nusaibah binti Ka’ab Al Maziniay. Rasulullah menobatkannya sebagai bidadari surga karena perannya membela Rasulullah saat pasukan muslimin terdesak pada perang Uhud. Bersama Mush’ab bin Umair -yang kemudian menemui syahid setelah mendapatkan puluhan tusukan di tubuhnya- Nusaibah menghadang Qam’ah, orang yang dipersiapkan membunuh Rasulullah dalam perang tersebut. Dua belas tusukan dan salah satunya mengenai leher Nusaibah. Bilah-bilah pedang yang satu persatu menghujam tubuhnya, ujung-ujung cadas tombak, dan barisan anak panah yang menghias tubuhnya, dirasainya sebagai sentuhan lembut para penghuni Surga. Darah mengalir dari setiap inci tubuhnya, air matanya menjadi saksi tak terbantahkan untuk memuluskan jalannya ke surga Allah. Dan debu bukit Uhud pun terharu menerima dentuman tubuhnya, tak henti-hentinya milyaran debu itu bersaksi akan harumnya wangi surga dari tubuh perempuan mulia itu.

Adalah Mush’ab bin Umair, aroma mewangi sudah tercium persis di depan hidung meski pemuda tampan itu masih berada puluhan meter jauhnya. Pakaiannya terbaik, terbagus dan termahal dari yang pernah dimiliki siapapun di tanah Makkah. Ketampanannya tak terkira, siapa memandang pasti terpesona, bahkan para lelaki pun iri. Siapa yang tak mengenalnya, pemuda perlente anak seorang bangsawan yang kesohor. Tetapi bukan itu yang membuatnya tercatat dalam sejarah manusia mulia pengikut Muhammad. Begitu terucap dari mulut wanginya kalimat Syahadat, bertambah wangi lah setiap sisi rongga mulutnya, wajah yang tampan semakin bersinar penuh cahaya kemuliaan meski tak lagi ia mengenakan gamis kebangsawanan, walau ia menanggalkan semua atribut yang menjadi simbol-simbol kebesaran. Mush’ab tetap tampan, kharismatik, dan menjadi teladan bagi pemuda dan remaja dimasanya, terlebih saat ia dipercaya sebagai duta pertama Rasulullah ke Madinah. Cita-citanya untuk tetap bersama Rasulullah di Surga kelak, di amin-kan oleh seluruh isi langit dan bumi, karena seorang pemuda kaya raya nan tampan itu syahid dengan tubuh penuh lubang dan sayatan. Ia menjadi tameng Rasullullah pada perang Uhud. Meski darah dan debu membaluti wajah dan tubuhnya, siapa yang bisa melepaskan beyang-bayang kharismanya?

Continue reading

Episode Kefanaan

Episode kehidupan berganti tiap waktu. Pada setiap bagian-bagian menunjukan satu hal yang berujung pada ketidakadaan. Dari kecil kemudian besar dan akhirnya hilang. Kasih sayang, suka cita tiba-tiba merubah wujudnya menjadi kebencian dan duka.  Entah disadari ataupun tidak itulah yang terjadi. Tidak heran dalam benak terkadang muncul pertanyaan-pertanyaan retoris. Pertanyaan yang kita sudah sangat tahu jawabannya. Ada apa dengan ini semua ?

Ketika Matahari menampakkan diri di pagi hari, dan terus menerpakan sinarnya ke setiap sudut alam hingga puncaknya pada tengah hari. Menjelang senja, ia pun mulai bersiap-siap meninggalkan singgasananya untuk bertukar peran dengan rembulan yang akan bercahaya menerangi malam hingga fajar. Bulan tak sendiri, ia ditemani oleh bintang-bintang yang berkelipan, belum lagi lintasan-lintasan benda langit lainnya yang menjadikan alam atas teramat mengagumkan. Begitu seterusnya, tak pernah matahari menguasai sepanjang hari, bulan dan bintangpun demikian. Karena sesungguhnya, tak satupun mereka berhak memiliki hari sepenuhnya.

Terkadang, langit cerah disertai mentari pagi yang menghangatkan menjadi mimpi terindah setiap makhluk di muka bumi. Tapi, tidak akan pernah mentari seterusnya berseri dan langit cerah, karena bukan tidak mungkin atap dunia itu berubah mendung dan menghitam, mencekam dan menebar ketakutan. Angin sejuk sepoi-sepoi yang terasa menyegarkan saat belaiannya menyentuh kulit, sesaat kemudian bisa berputar dan berputar membentuk tornado yang dalam sedetik meluluhlantakkan semua yang terhampar di bumi. Air laut yang tenang, pantai yang indah dengan ombak yang melambai indah, hamparan pasir yang halus, disaat yang lain bisa menjadi gelombang air dahsyat yang menenggelamkan sejuta harapan, meninggalkan bekas yang memilukan.

Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.