BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lembaga Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta memiliki akhlaq yang mulia. Namun,pada kenyataannya nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya terwujud. Tingkat prestasi dibidang pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah disbanding dengan Negara-negara di dunia. Kenakalan yang dilakukan pelajar masih sering mewarnai kolom pemberitaan diberbagai media. Oleh sebab itu dibutuhkan sistem pendidikan berbasis agama dan Iptek sehingga mampu mencetak generasi yang beraklaq mulia dan benar-benar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berdasarkan perspektif historis, Indonesia merupakan sebuah negeri muslim yang unik, letaknya sangat jauh dari pusat lahirnya Islam (Mekkah). Meskipun Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke tujuh, dunia internasional mengakui bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan Pendidikan Agama Islam di Indonesia.
Lembaga Pendidikan Agama Islam pertama didirikan di Indonesia adalah dalam bentuk pesantren (Sarijo, 1980; Dhofier, 1982). Dengan karaktemya yang khas “religius oriented“, pesantren telah mampu meletakkan dasar-dasar pendidikan keagamaan yang kuat. Para santri tidak hanya dibekali pemahaman tentang ajaran Islam tetapi juga kemampuan untuk menyebarkan dan mempertahankan Islam.
Masuknya model pendidikan sekolah membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi umat Islam saat itu, yang mengarah pada lahirnya dikotomi ilmu agama (Islam) dan ilmu sekuler (ilmu umum). Dualisme model pendidikan yang konfrontatif tersebut telah mengilhami munculnya gerakan reformasi dalam pendidikan pada awal abad dua puluh. Gerakan reformasi tersebut bertujuan mengakomodasi sistem pendidikan sekolah ke dalam lingkungan pesantren (Toha dan Mu’thi, 1998). Corak model pendidikan ini dengan cepat menyebar tidak hanya di pelosok pulau Jawa tetapi juga di luar pulau Jawa. Dari situlah embrio madrasah lahir.
Tuntutan pengembangan madrasah akhir-akhir ini dirasa cukup tinggi. Pengembangan madrasah di pesantren yang pada umumnya berlokasi di luar kota dirasa tidak cukup memenuhi tuntutan masyarakat. Oleh karena itu banyak model pendidikan madrasah bermunculan di tengah kota, baik di kota kecil maupun di kota-kota metropolitan. Meskipun banyak madrasah yang berkembang di luar lingkungan pesantren, budaya agamanya, moral dan etika agamanya tetap menjadi ciri khas sebuah lembaga pendidikan Islam. Etika pergaulan, perilaku dan performance pakaian para santrinya menjadi daya tarik tersendiri, yang menjanjikan kebahagiaan hidup dunia akhirat sebagaimana tujuan pendidikan Islam.
Realitas menunjukkan bahwa praktek pendidikan nasional dengan kurikulum yang dibuat dan disusun sedemikian rupa bahkan telah disempurnakan berkali-kali, tidak hanya gagal menampilkan sosok manusia Indonesia dengan kepribadian utuh, bahkan membayangkan realisasinya saja terasa sulit. pendidikan umum (non madrasah) yang menjadi anak emas pemerintah, di bawah naungan Depdiknas, telah gagal menunjukkan kemuliaan jati dirinya selama lebih dari tiga dekade. Misi pendidikan yang ingin melahirkan manusia-manusia cerdas yang menguasai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kekuatan iman dan taqwa plus budi pekerti luhur, masih tetap berada pada tataran ideal yang tertulis dalam susunan cita-cita (perundang-undangan). Tampaknya hal ini merupakan salah satu indikator dimana pemerintah kemudian mengakui keberadaan madrasah sebagian dari sistem pendidikan nasional (Raharjo, http://www.ditpertais.net).
Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar madrasah kurang berkompeten dalam bidang sains dan teknologi dibandingkan dengan sekolah umum. Madrasah dalam pandangan masyarakat luas hanya sebagai lembaga pendidikan agama. Ketika orang mengharapkan anak-anaknya memiliki kemampuan yang tinggi, mereka memilih memasukkan anaknya ke sekolah umum. Fasilitas pendidikan yang terdapat di madrasah dan sekolah umum pun berbeda. Madrasah memiliki sarana penunjang pendidikan yang kurang memadai, terutama yang terdapat di daerah pelosok. Rata-rata kompetensi lulusan madrasah lebih rendah dibanding dengan lulusan sekolah-sekolah umum. Materi yang disampaikan di madrasah berbeda dengan sekolah umum. Di madrasah materi keagamaan lebih banyak. Meskipun demikian materi yang diujikan secara nasional sama.
1.2 Gagasan
Kesalahan dikotomi pendidikan antara pendidikan agama-madrasah dan pendidikan umum menyebabkan munculnya kelebihan dan kekurangan dari masing-masing sistem. Madrasah yang lebih menonjolkan pengajaran pada sisi agama ternyata masih memiliki kekurangan dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Lulusan dari madrasah kurang biasa menguasai kemampuan sains dan teknologi secara umum. Sedangkan pada sistem pendidikan umum-nasional yang masih mewarisi sistem pendidikan sekular-materialistik yang nampak jelas dengan menurunya nilai-nilai transendental pada semua proses pendidikan seperti moral dan kesopanan. Maka gagasan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah mengkombinasikan antara sistem pendidikan agama dan umum menjadi sistem pendidikan yang berbasis Iptek-agama.
DIarsipkan di bawah: Beranda | Ditandai: Pendidiikan | Leave a Comment »



Melanjutkan catatan saya sebelumnya tentang kata yang membuat kita sering terpana yaitu cinta. Mumpung ada waktu dan lagi semangat. Pernahkah Anda jatuh cinta? Atau mungkin malah Anda alami sekarang?. Berdasarkan pengamatan (diadakan oleh LSIT=Lembaga Survey Internal Teman.)orang yang jatuh cinta tingkah lakunya bisa berubah dengan tiba-tiba. Semula berpenampilan acak-acaka berubah menjadi klimis. Semula berpakaian tidak pernah ganti berhari-hari, demi si dia rela berganti tiap satu jam sekali kalau diminta (Lebay…..) Dia sering bengong,termenung memikirkan hal yang gak jelas. Matanya menerawang jauh kemana-kemana,seolah di depannya ada gambar si dia. Siang ,pagi ,malam, bangun tidur hampir tiap saat tidak melewatkan untuk membuat jari tangannya sehat dengan mengotak-atik handphonenya berSMS dengan dia. Sekali-kali ada sedikit tawa yang sejuk,berbalas pesan dengan sang pujaan. Astaghfirullah..Belum selesai nih gambaranya,pada kesempatan yang lain dia sering berbuat salah tingkah atau uring-uringan (hati-hati dengan yang seperti ini jangan dikasih baygon),namum ketika tahu handphone bututnya bordering,wajahnya sedikit merona. Musik-musik yang didengar bukan malah nasyid atau murotal tapi lagu-lagu romantis. Bagi dia semua nampak begitu indah,penuh pesona, beragam warna dan dimana-mana terasa wangi. Hayo siapa yang merasa seperti ini ,hati-hati segera istighfar.
Pekerjaan menunggu memang terkadang sangat membosankan. Menunggu membuat pikiran kemana-mana alias GeJe ( gak jelas). Itulah peristiwa yang kualami saat mau berangkat ke Surabaya. Tiba-tiba sebuah peristiwa unik terjadi di depanku. Lumayan mengurangi rasa bosan saat menunggu. Ada wanita yang menangis di sebuah halte bus. Tentu saja hal itu menarik perhatian orang disekitarnya. Wanita itu kelihatannya masih muda. Kalau bisa diukur usianya kira-kira seukuran mahasiswalah. Setelah ditanya oleh orang-orang yang mendekat. Jawabannya lucu tapi gak buat orang ketawa. Ada yang bisa nebak? Jawabannya ternyata dia baru saja putus dengan sang pacar. Untung saja saya tidak mendekat ,bias-bisa jadi gantinya (he..). Astaghfirullah..Saya jadi heran dengan gadis itu (pakai kata wanita terasa tua kalau kata akhwat kayaknya kurang tepat..he…). Kenapa begitu mudahnya ia menumpahkan air mata hanya karena seorang lelaki. Kalau suami sih tidak masalah tapi ini pacar. Semoga saja tidak ada yang merasa tersinggung atau jangan-jangan banyak yang mengalami. Kalau pun ,ada semoga tidak menuntut saya.
Suatu masa ketika umat Islam dirudung kesedihan. Terangnya matahari tidak dapat mengubah kegelapan hati umat Islam. Kegelapan karena takut kehilangan. Masa tatkala azal mendekati kekasih umat Muhammad SAW. Kucoba untuk menghadirkan diriku pada saat itu. Berkumpul bersama sahabat didekat Nabi yang sedang sakit.
Suatu hari, satu tahun yang lalu, saya sedang bete berat. Entah mengapa, dunia terasa sempit, sumpek dan menyebalkan. Padahal banyak pekerjaan yang mestinya saya selesaikan. Laporan praktikum yang bertumpuk,tugas banyak,amanah dari banyak organisasi yang kebetulan saya ikuti. Dalam perjalanan pulang menuju kost, mata saya tiba-tiba tertumbuk pada sebuah wartel. Tanpa tahu mau menelepon siapa dan untuk apa menelepon, saya dengan linglung memasuki salah satu kabin. Sebuah nomor tiba-tiba terpencet otomatis. 5768xx! “Assalamu’alaikum…” sebuah suara yang mendadak terasa merdu terdengar.
Saudaraku semua terkadang begitu banyak dosa yang kita lakukan tapi tak pernah sedikitpun kita merasakan. Banyak larangan-larangan Alloh yang masih kita langgar. Tidak sedikit pula rutinitas kebaikkan yang mestiya dikerjakan justru ditinggalkan. Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan” atau “asal tidak ada tugas”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah? 